Samsuri, Muazin yang Menghilang
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News – Samsuri, Muazin yang Menghilang – Samsuri merasa seperti melayang-layang. Sambil was-was, satu persatu diterimanya salam jabat erat dari sesama jamaah. Didengarnya ucapan selamat, pujian, senyum manis, dan ucapan terima kasih. Tak satu pun ucapan itu dibalasnya dengan ucapan, melainkan hanya seulas senyuman saja. Dia bingung harus bagaimana dan harus ngomong apa.
Itu terjadi setelah selesai salat Magrib. Samsuri yang mengumandangkan azan untuk kedua kalinya hari ini. Sebelumnya, ketika tiba waktu salat Asar, azan berkumandang lantang membahana menguasai angkasa ke seantero kampung. Gema suaranya ngelawung tanpa halangan ke segenap penjuru mata angin dari ketinggian menara.
Suara azan itu juga merambat masuk ke sudut-sudut dapur, kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dan beranda rumah. Tidak memandang siapa, bebas ke mana saja, tersebar merata mengajak kaum muslim menunaikan kewajiban salat.

Ajakan salat itu menyapa tanpa pandang bulu, insan-insan di lapangan bola, tempat-tempat parkir, toko-toko, dan bangku-bangku angkringan. Suaran merdu itu menembus masker-masker penutup mulut dan hidung, tembus hingga ke lambung, sumsum tulang dan relung kalbu.
Azan kali ini memang berbeda dari biasanya. Selain enak didengar, juga lantang dan ada nada mengajak di dalamnya. Biasanya hanya dikumandangkan alakadarnya, didengar syukur tidak didengar terserah saja.
Ajakan lantang itu juga berhembus menembus dinding-dinding rumah yang ada di sekitar masjid. Sampai-sampai membuat para ibu menghentikan kegiatan sorenya sejenak. Berhenti dari memandikan anaknya, menyuapi bayinya, mencuci bajunya, dan bikin kopi untuk suaminya.
Beberapa orang keluar rumah untuk memastikan telinganya memang benar-benar mendengar suara azan. Di kampung yang cukup padat penghuni itu, para ibu berdaster pada saling menatap dan menyapa dari halaman rumahnya masing-masing.
Ibu Rahmat, ”Dengar azan itu Bu Slamet?”
Ibu Slamet, “Iya, makanya aku keluar, kompornya aku matiin. Aku lagi nggoreng singkong kesukaan bapaknya anak-anak.”
Ibu Rahmat, “Iya, aku juga matiin kompor. Aku lagi bikin ayam geprek kesukaan anak-anakku.”
Ibu Joko, “Eh iya tuh, sapa sih yang azan? Kayaknya dari kemarin-kemarin gak seenak ini di telinga ya?”
Ibu Rahmat, “Tetapi kayaknya itu suara pak Samsuri ya?”
Ibu Joko, “Masak sih? Emang dia sudah mau?”
Pesona suara azan juga melanda anak-anak yang sedang mandi di kali, main di sawah, dan mancing di kolam pemancingan. Tanpa sadar mereka berhenti sejenak, membiarkan telinga mereka menikmati suara nan merdu itu.
“Hai, dengerin dulu tuh,” kata si Gendut, “Itu kan suara Ustaz Samsuri ya?”
“Hayya ‘alashshalaaaaah…” suara azan yang artinya “mari kita salat”.
“Aaah… iya betul, itu suara Pak Samsuri. Ayo pulang yuk, ke masjid kita,” saut si Kurus.
“Hayya ‘alalfalaaaaaah…..” lanjutan azan yang artinya “mari meraih kejayaan”.
“Ayuuk,….jangan sampai ketinggalan…” teriak si Gundul, mereka ramai-ramai saling menyahut.
Tidak lama kemudian mereka berlarian menuju masjid.
Beda lagi dengan bapak-bapaknya, mereka justru memilih diam dan menyimpan rasa sukanya di dalam hati. Mereka senang karena akhirnya Samsuri mau menjadi muazin. Sebelumnya Samsuri kadang sesekali saja azan. Dia sejak lama tidak beredia menjadi muazin karena banyak alasan. Penolakan ini mengecewakan warga yang sudah lama bermimpi mendengar suara panggilan salat yang nyaman di telinga dan itu ada pada diri Samsuri. Nada dan suaranya disukai banyak orang.
Selama ini azan dibawakan oleh marbot yang sedang bertugas atau siapa saja yang sempat dan kebetulan sedang berada di sana. Oleh karen itu suaranya kadang-kadang saja enak di telinga, lebih sering bikin tidak nyaman di hati. Warga tahu mereka “punya” Samsuri maka sibuklah orang merayunya lagi untuk bersedia menjadi muazin.
Seperti yang sudah-sudah, kalau ada orang datang merayunya, Samsuri selalu menjawab, “Jangan saya, sungguh….., masih banyak yang lain yang lebih bagus kok,” lalu ditambah dengan kata-kata, “Saya minta maaf sekali, saya kan harus berkeliling dan seringkali sampai jauh. Tidak mungkin saya terikat lima kali dalam sehari harus ada di sini.”
Warga tidak kapok. Berbagai iming-iming pun sudah pernah mereka sampaikan pada Samsuri. Bahkan, dulu ada tokoh kampung yang mau menanggung biaya hidupnya, tetapi dia tetap bergeming.
Saat coba dirayu melalui istrinya dengan iming-iming materi, Samsuri selalu menjawab, “Bu, azan itu bagian dari dakwah, aku enggak mau menukar pahala dakwah dengan materi.”
Pernah suatu hari masjid mengadakan seleksi calon muazin. Samsuri, lelaki paruh baya beranak satu ini tidak mau ikut. Baginya, azan itu adalah sebuah amal ibadah yang harus didasari keikhlasan dan tanpa riya (tanpa-pamrih).
Samsuri memang beda. Baginya, apa pun yang dilakukannya hanya berkah Allah yang dia harapkan. Dia mengajar anak-anak tetangganya baca Al-Quran juga tidak mau dibayar. Dia merasa kebisaannya juga diperoleh secara gratis dari guru-gurunya.
Samsuri pernah cerita, dia ngaji baca Al-Quran di sekolah sore sepulang dari sekolah pagi dan menggembala kambing orang tuanya. Dia juga belajar azan secara autodidak dari menirukan suara azan di TV dan Radio. Dari situ dia menguasai beberapa lagu azan. Semuanya diperolehnya secara gratis
Sepertinya Samsuri sudah masuk katagori manusia zuhud, yaitu orang yang menganggap kecil urusan dunia. Walau begitu rupanya rizki bisa datang dari mana saja. Terbukti dia dan keluarganya tidak pernah merasa kekurangan.
Warga agaknya menghendaki Samsuri menjadi muazin bukan hanya karena suaranya saja, tetapi juga karakter dan pola hidupnya yang layak diteladani. Sudah lama warga kehilangan keteladanan.
Budi pekerti luhur semakin tergerus, emosi, egoisme, dan baperan menjadi panglima. Itu memprihatinkan banyak orang waras. Oleh karena itu warga sangat bahagia mendengar kesediaannya menjadi muazin. Azan perdana saat Asar tadi saja sudah membuat orang terkesan. Suaranya mengajak, merdu, merasuk kalbu.
Setelah azan Asar tadi, orang menunggu-nunggu azannya saat memasuki Magrib dan itu menjadi kenyataan. Samsuri mengumandangkan azan Magrib dengan sepenuh jiwa.
Dengan jangkauan pelantang di atas menara, warga sudah tidak asing lagi dengan suara Samsuri sehingga masjid pun sontak dipenuhi orang untuk menunaikan salat Magrib berjamaah.
Selesai salat Magrib itulah banyak jamaah datang menghampiri Samsuri. Ada yang berterima kasih, ada yang salut, ada yang memuji, ada yang berharap, dan ada yang mendoakan. Tidak sedikit yang setengah memuja-mujinya. Masjid kini memiliki muazin mumpuni. Warga pun lega.
Saat hampir tiba salat Isya, orang pada menunggu dan siap-siap pasang telinga. Namun, ditunggu-tunggu Samsuri tidak kunjung kelihatan jempol kakinya. Azan belum juga dikumandangkan, padahal musala dan masjid lain sudah selesai azan dan beberapa sudah terdengar ikamah. Samsuri belum nongol juga.
Ketika azan Isya tidak bisa diundur, berkumandanglah suara azan, kali ini kembali seperti hari-hari sebelumnya, sember dan fals. Samsuri hinggu saat Isya lewat tak kunjung datang dan tak juga kelihatan di rumah. Beberapa orang bersama-sama bertamu ke rumahnya. Mereka ditemui istrinya. Samsuri hilang, lebih tepatnya menghilang.
Ya, Samsuri menghilang. Hanya meninggalkan pesan kepada istrinya, “Aku pergi beberapa hari. Tidak usah dicari dulu ya Bu.”
Istrinya sudah mencoba menahannya, “Kenapa harus pergi sih Pak? Masih takut menjadi orang terkenal dan muazin kondang ya Pak?”
“Aku tidak takut terkenal, Bu. Aku hanya sangat takut menjadi orang yang takabur dan hati penuh riya,” jawab Samsuri.
“Pak, orang-orang tuh pada kepingin terkenal, lihat saja medsos anak kita,” Kata istrinya agak kesel, lalu lanjutnya, “Banyak orang mau melakukan apa saja supaya terkenal ke seluruh dunia, lhaaah cuma terkenal di seantero kampung kok takut sih Pak?“
Samsuri menahan rasa kesalnya, lalu didekati istrinya dan berbisik di telinga kirinya, “Bu, istigfar, yang Ibu sebut tadi itu nama-nama lain dari setan.”
“Astaghfirullah Pak. Ya sudah kalau mau pergi, hati-hati ya,” ujar istrinya mencoba menahan diri, dalam hatinya berkata paling nanti Subuh juga pulang.
Samsuri, si muazin memang beda dan tidak ada duanya.
Purwokerto, 31 Maret 2023.
Sarkoro Doso Budiatmoko.
***
Judul: Samsuri, Muazin yang Menghilang
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***









Di medan dakwah memang musti berhadapan dgn orang banyak. Dan memungkinkan utk jd terkenal.
Meninggalkan medan dakwah malah bisa jd spt kasus nabi yunus? Masuk perut ikan?