Berita (News)EkonomiPerguruan TinggiPratama Media NewsWisata

Tim PkM STIEPAR YAPARI Bantu Pengembangan Produksi Petani Strawberry di Ciwidey Kabupaten Bandung Melalui Inovasi Produk Tepat Guna

Tim PkM STIEPAR YAPARI juga memberikan peralatan inovasi produk berupa Food Dehydrating dan Sealer Machine kepada Kelompok Usaha oleh-oleh Edelweiss

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (06/10/2023) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) STIEPAR YAPARI pada 20 September 2022 lalu telah mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan peserta sebanyak 45 orang. Mereka adalah para pelaku usaha petani strawberry di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Kegiatan bertajuk “Pengembangan Produk Strawberry Ciwidey Menunjang Pariwisata Kabupaten Bandung” tersebut merupakan pelaksanaan kegiatan  PkM Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Tahun Anggaran 2023.

Pernyataan tersebut  diungkapkan oleh Rieke Sri Rizki Asti Karini, S.E., M.Si sebagai Ketua Tim PkM STIEPAR YAPARI di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung kepada Pratama Media News pada Jumat (06/10/2023) kemarin di Kota Bandung.

Rieke Sri Rizki Asti Karini
Rieke Sri Rizki Asti Karini, S.E., M.Si., dosen STIEPAR YAPARI Bandung

Kegiatan PkM yang merupakan bentuk dari penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini diusung oleh Rieke Sri Rizki Asti Karini, S.E., M.Si sebagai Ketua, serta  Indah Nur Agustiani, S.Par., M.M., dan Panji Pamungkas, S.E., M.MT sebagai anggota pengusul yang dibantu oleh tiga mahasiswa Program Studi Manajemen, yaitu Kapra Ade Hendri Yusra, Syah Fitri Oktaviana, dan Yuni Fitriyani.

Menurut Ketua kegiatan PkM, Rieke Sri Rizki Asti Karini, S.E., M.Si., pemilihan daerah Ciwidey sebagai lokasi kegiatan kaena dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa di daerah ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata alam, buatan, serta budaya di Kabupaten Bandung dengan masyarakatnya yang berprofesi sebagai pekebun, peternak dan petani. Mereka beralih dari petani sayuran ke strawberry karena hasil yang didapat lebih cepat panen dan pendapatan yang diperoleh lebih banyak.

“Ini terjadi di Desa Alamendah bahwa 99% hasil strawberry yang diproduksi dikirim ke berbagai kota di Indonesia dengan rantai distribusi petani, bandar, pengusaha (industri olahan strawberry), reseller hingga  konsumen akhir. Produk yang didistribusikan adalah buah segar strawberry yang belum diolah, sehingga tidak memberikan nilai tambah bagi petani,” ungkap Rieke.

Foto bersama dengan Tim PkM STIEPAR YAPARI dan sebagian Peserta FGD di Kelompok Usaha Olahan oleh-oleh Katumbiri Edelweiss Ciwidey, Kab. Bandung
Foto bersama dengan Tim PkM STIEPAR YAPARI dan sebagian Peserta FGD di Kelompok Usaha Olahan oleh-oleh Katumbiri Edelweiss Ciwidey, Kab. Bandung – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)
Foto bersama dengan Tim PkM STIEPAR YAPARI dan sebagian Peserta FGD di Kelompok Usaha Olahan oleh-oleh Katumbiri Edelweiss Ciwidey, Kab. Bandung - (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)
Foto bersama dengan Tim PkM STIEPAR YAPARI dan sebagian Peserta FGD di Kelompok Usaha Olahan oleh-oleh Katumbiri Edelweiss Ciwidey, Kab. Bandung – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)

Salah satu mitra yang mengolah strawberry menjadi nilai tambah yaitu Kelompok Usaha Olahan oleh-oleh Katumbiri Edelweiss di bawah pimpinan Ibu Legi Liawati yang mengolah strawberry untuk dijadikan oleh-oleh, seperti sirup, selai, dodol, permen bola-bola, jelly, manisan papaya, manisan strawberry dan stick sayur. Dodol dan manisan strawberry merupakan produk khas Kelompok Usaha olahan ini yang dipasarkan di destinasi wisata atau pusat oleh-oleh di Rancabali Ciwidey.

Permasalahan yang terjadi

Dalam praktiknya, ternyata terjadi beberapa masalah di lapangan. Pertama,  bahan baku yang digunakan berkualitas dua dimana bagian buah rusak dibuang dan yang baik digunakan sebagai bahan baku akan berpengaruh terhadap kualitas produk. Kedua, belum ada inovasi produk lain melalui diversifikasi produk untuk menambah pilihan produk kekinian yang digunakan sebagai olahan makanan dan minuman.

Permasalahan ketiga adalah kadaluarsa produk dimana daya tahan produk olahan tidak berumur panjang sehingga yang terlihat adalah produk agak berjamur berdasarkan survei  acak outlet reseller.

Masalah keempat adalah kemasan produk, sedangkan masalah kelima adalah pemasaran digital yang masih menggunakan reseller (toko oleh-oleh).

Solusi yang ditawarkan

Melihat beberapa permasalahan tersebut di atas maka ditawarkanlah beberapa solusi, yaitu Pertama, meningkatnya kualitas produksi dan penanganan produksi, penjualan produk, walaupun bahan baku masih menggunakan kualitas nomor dua, harus mensortir bahan baku, penyimpanan bahan baku menjadikan peningkatan kualitas produk dan penanganan produksi menjadi lebih baik dan tahan lama. Adapun proses produksi olahan strawberry saat ini, meliputi sirup, selai, dodol strawberry masih menggunakan teknologi sederhana.

Kedua, meningkatnya jumlah inovasi, diversifikasi produk dan alih teknologi dengan menerima pelatihan inovasi produk dan referensi ragam olahan yang diterima pasar dengan teknologi tepat guna dan mudah diimplementasikan. Produk olahan menjadi tujuh jenis dengan tambahan tiga produk inovasi, yaitu: keripik strawberry kering, bubuk strawberry untuk makanan dan minuman, serta yogurt strawberry.

Tiga, meningkatnya daya tahan produk dengan mengadakan pelatihan penanganan produksi dan kadaluarsa produk dengan menggunakan bahan tambahan makanan yang aman dikonsumsi dan direkomendasi BPOM sehingga produk menjadi lebih tahan lama sampai tiga bulan setelah menggunakan alat vacuum dan bahan pengawet makanan, silical gel dalam jangka waktu lama.

Empat, meningkatnya perbaikan kemasan produk melalui pelatihan perbaikan, keamanan kemasan untuk pengiriman dan pemasaran dengan menggunakan kemasan plastik bervacuum dan sterilisasi botol  kemasan.

Lima, meningkatnya jangkauan pemasaran produk dengan pengenalan pemasaran produk kekinian melalui berbagai macam saluran pemasaran, baik toko reseller maupun melalui penjualan online.

Forum Grup Diskusi (FGD)

Pada kegiatan Forum Grup Diskusi (FGD) dillakukan pemaparan materi yang disampaikan oleh empat narasumber yang berkompeten. Pemaparan pertama membahas tentang Teknik Pengemasan Produk” yang disampaikan oleh Rachmat Astiana, S.Par., M.M.Par. Pemaparan kedua disampaikan oleh Anti Riyanti, S.Sos. M.M. yang menyampaikan materi bertajuk “Preservation Of Food’.

Narasumber FGD, Rachmat Astiana, S.Par., M.M.Par. sedang memaparkan materi “Teknik Pengemasan Produk”
Narasumber FGD, Rachmat Astiana, S.Par., M.M.Par. sedang memaparkan materi “Teknik Pengemasan Produk” – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)
Narasumber FGD kedua, Anti Riyanti, S.Sos. M.M. ketika sedang menyampaikan materi bertajuk “Preservation Of Food"
Narasumber FGD kedua, Anti Riyanti, S.Sos. M.M. ketika sedang menyampaikan materi bertajuk “Preservation Of Food” – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)

Pemaparan ketiga disampaikan oleh Yopi Yagantara dari SMK Yapari yang membahas materi bertajuk “Praktek Inovasi Olahan Produk Strawberry dengan menggunakan Food Dehydrating”.

Narasumber FGD, Panji Pamungkas, S.E., M.MT, sedang menyampaikan materi bertajuk “Penghitungan Harga Jual Produk Strawberry”
Narasumber FGD, Panji Pamungkas, S.E., M.MT, sedang menyampaikan materi bertajuk “Penghitungan Harga Jual Produk Strawberry” – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Panji Pamungkas, S.E., M.MT membahas tentang Penghitungan Harga Jual Produk Strawberry”.

Menurut Rieke, sebelum mengadakan FGD Tim PkM STIEPAR YAPARI sudah melakukan survey ke Ciwidey pada 22 Agustus 2023. Selanjutnya pada pertengahan Oktober ini, mereka akan melakukan kegiatan monitoring.

Pemberian Peralatan Inovasi Produk

Selain itu mengadakan FGD, Tim Pengabdian kepada Masyarakat ( PkM ) memberikan peralatan inovasi produk, yaitu berupa Food Dehydrating dan Sealer Machine kepada Kelompok Usaha oleh-oleh Edelweiss, sekaligus uji coba penggunaan Food Dehydrating terhadap keripik strawberry kering, bubuk kering strawberry untuk makanan dan minuman, serta yogurt strawberry.

Mesin Food Dehydrating merupakan alat termasuk kategori teknologi tepat guna dan sederhana yang sering diterapkan terhadap aneka buah-buahan seperti buah musiman, seperti durian, rambutan, mangga, kelengkeng, nangka atau buah sepanjang tahun.

Perangkat ini juga bisa dikategorikan sebagai teknologi tepat guna karena dapat juga diterapkan terhadap produk selain buah, seperti bahan baku sayuran dan biji-bijian kering.

Mesin ini dikatakan sederhana karena mudah dioperasikan sehingga dapat memproduksi buah-buahan krispi, Caranya dengan memasukkan buah-buahan seperti apel, pisang, nanas, mangga, wortel, bawang, strawberry, gingseng, herbal, jamur, kiwi, sayur, daging, biji-bijian, dan produk lainnya yang sudah diolah ke dalam mesin food dehydrator digital pengering.

Bagan proses produksi olahan strowberry - (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)
Bagan proses produksi olahan strowberry – (Sumber: Humas STIEPAR YAPARI)

Proses produksi produk inovasi menggunakan mesin Food Dehydrating pada proses ketiga yaitu pengeringan strawberry menjadi strawberry krispi (keripik strawberry). Strawberry dikeringkan dalam waktu tertentu. Jika stawberry kering telah jadi, apabila diblender halus akan menjadi produk olahan bubuk strawberry.

Produk ini bisa digunakan sebagai bahan bakan kue, minuman dan lainnya. Telah dijajaki kerjasama dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan untuk mengembangkan Yougurt Strawberry agar produksi bubuk strawberry banyak terserap.  (RSR/PMN).

***

Judul: Tim PkM STIEPAR YAPARI Bantu Pengembangan Produksi Petani Strawberry di Ciwidey Kabupaten Bandung Melalui Inovasi Produk Tepat Guna

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button