ArtikelPendidikanPratama Media News

Sudahkah Anda Menjadi Guru yang Hebat?

Oleh: Diantika IE

Menjadi guru yang hebat bukanlah perkara mudah. Selain harus memiliki keterampilan mumpuni dalam menyampaikan materi yang diajarkan, guru pun harus mampu menjadi teladan bagi muridnya. Membimbing dan mendidik siswa dengan berbagai karakter yang berbeda bukan juga perkara mudah. Guru bukan hanya bertugas mengajar dan menemani murid belajar, melainkan harus mampu menjadi penyemangat.

Selain itu, guru sebaiknya mampu memotivasi muridnya sehingga ia mau terus belajar dan memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika seorang guru memiliki jiwa pembelajar sejati dalam rangka mempertinggi kualitas dirinya sendiri.

Penyimpangan Prilaku Anak

Kemajuan zaman yang begitu pesat menuntut guru lebih kreatif mengimbanginya. Pesatnya teknologi menjadi pengaruh tersendiri untuk siswa, baik dalam prilaku, akhlak, sopan santun maupun pengetahuan mereka terhadap hal-hal baru. Pengetahuan anak pun berkembang terlalu cepat. Sayangnya pengetahuan tersebut kadang malah bablas. Bahkan, tidak jarang mereka mengetahui hal-hal yang belum sepantasnya diketahui sebelum masanya.

Dewasa ini banyak ditemukan kasus di lapangan ketika karakter seorang anak berubah menjadi buruk. Guru pun kerap menjadi bulan-bulanan dan kambing hitam atas masalah ini. Jika seorang siswa melakukan tindakan yang tidak terpuji, gurulah yang disalahkan oleh pihak orang tua dan menjadi gunjingan masyarakat. Guru dianggap tidak mampu membimbing dengan baik dan tidak dapat menjadi teladan bagi siswanya.

Seorang guru sedang mengajar anak didiknya (sumber: Diantika IE)

Mari kita simak bersama. Jika ada seorang anak memiliki penyimpangan prilaku dan kehilangan sopan santun, sebenarnya itu salah siapa? Jika dikaji ulang, begitu banyak pengaruh buruk yang jauh lebih berakibat fatal pada anak jika dibandingkan dengan pendidikan guru di sekolah. Salah satunya adalah pengaruh yang dihadirkan oleh lingkungan dan teknologi itu sendiri.

Kondisi saat ini, pandemi covid-19 masih terjadi. Anak-anak diharuskan belajar menggunakan media online. Penyetoran tugas melalui media surat elektronik (surel). Begitu pula dengan pencarian referensi pelajaran. Siswa dituntut untuk mencari bahan pelajaran tambahan di internet. Hal ini memicu kemungkinan anak “banyak mampir” ke laman lain yang tidak ada hubungannya dengan tugas pelajaran.

Ilustrasi belajar di rumah secara daring (sumber: thabalancecareers.com)

Di luaran sana, banyak anak-anak kecil yang telah memiliki akun tiktok. Memang, jika ditinjau dari satu sisi, aplikasi ini mampu menumbuhkan kreativitas. Namun, rasanya pengaruh buruknya jauh lebih banyak daripada pengaruh positif yang didapatkan penggunanya.

Jika mau dibahas, pada masa pandemi ini yang paling banyak berinteraksi dan bersama dengan peserta didik adalah orang tuanya karena proses pembelajaran dilakukan dengan cara daring alias belajar jarak jauh. Namun apa mau dikata, sekali lagi guru pun akhirnya dianggap sebagai biang kerok atas semua persoalan yang terjadi dan posisinya senantiasa disalahkan.

Tutuntan Terhadap Guru

Guru dituntut memiliki empat kompetensi, yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, sedangkan tugas pokok dan fungsi guru menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.15 Tahun 2018 adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru harus bisa menjadikan siswanya cerdas dan memiliki prilaku yang  terbaik ketika ia berada dalam lingkungan masyarakat.

Selain itu, guru juga dituntut mampu bertutur kata yang baik, memahami agamanya, terbiasa berpakaian baik dan sopan, bertutur kata yang baik dan benar kepada orang yang lebih tua, termasuk menghormati orang tuanya di rumah, kini semuanya menjadi tugas besar seorang guru. Namun, apakah kecerdasan anak dan perilaku mereka semua tergantung kepada kompetensi guru yang ada di sekolah? Tentunya tidak. Guru hanyalah orang biasa yang ‘kebetulan memilih profesi’ sebagai guru, berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya.

Guru hanyalah manusia biasa yang  juga memiliki tingkat intelegensi dan pengetahuan yang tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Ia bukan pula termasuk orang yang terlalu jenius ketika menjadi guru atau mendapatkan tugas mendidik anak-anak bangsa. Guru bukanlah juga manusia super tanpa cela dan cacat yang mampu menjadi teladan terbaik seperti para nabi dan rosul. Sekali lagi, guru hanya manusia biasa.

Seorang guru sedang mengajar (sumber: Diantika IE)

Adanya berbagai keterbatasan kapasitas, kecerdasan, dan kemampuan menahan prilaku maka sejatinya seorang guru harus memiliki empat sifat di bawah ini untuk membedakannya dengan profesi lainnya.

Pertama, adaptif. Guru selayaknya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri sesuai dengan keadaan terkini. Kemajuan teknologi dan perkembangan sistem pembelajaran terus bergerak secara cepat, mulai dari pembaruan alat, media, cakupan materi, sampai kompetensi yang harus dicapai, serta kurikulum yang cenderung terus berubah.

Kedua, inovatif. Seorang guru harus memiliki semangat untuk terus meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan dalam dirinya. Ia pun harus mampu menemukan dan melakukan kreasi-kreasi baru, baik yang berhubungan dengan alat, media, teknik, maupun metode penyampaian materi agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan maksimal.

Kaitannya dengan media pembelajaran dan tren media yang berhubungan dengan dunia pendidikan, bukan lagi hanya menjadi tugas para pemerhati dan pelaku pendidikan, melainkan menjadi tugas bersama. Adanya keseimbangan dan keselarasan antara media audio, visual, audio visual, baik ofline maupun online harus mendukung kepada pelaksanaan dan kemudahan pembelajaran yang menjadikan proses pembelajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Ketiga, kreatif. Seorang guru harus memiliki daya cipta yang tinggi. Ia tidak boleh kehabisan akal untuk menciptakan sebuah produk yang bisa dijadikan media pembelajaran, menciptakan metode yang unik untuk menyampaikan pembelajaran, serta menciptakan suasana yang kondusif selama pemberlajaran berlangsung.

Dengan kreativitas diharapkan proses pembelajaran tidak kaku. Pembelajaran pun tidak stagnan dan terus berkembang. Pembelajaran tidak terasa monoton dan bisa diikuti dengan baik oleh peserta didik dengan penuh suka cita. Belajar tidak membosankan dan penuh keceriaan. Dengan suasana belajar yang menyenangkan, diharapkan bisa membuat materi yang diajarkan mudah diserap oleh peserta didik.

Keempat, kritis. Kritis memiliki arti, tidak mudah percaya. Dalam hal dunia pendidikan, seorang guru layaknya tidak mudah percaya dengan isu yang datang. Ia harus pandai menyaring dan selalu berusaha menimbang, mencerna, dan mengamati lebih dahulu untuk menemukan kesalahan dan kekeliruan dengan analisis yang tepat.

Kecanggihan komunikasi bisa mempermudah segalanya. Namun, jangan sampai karena adanya kemudahan ini, guru lantas jadi tidak memedulikan komunikasi dan kepantasan komunikasi yang sehat di luar alat telekomunikasi sehingga menghadirkan sikap yang kurang elok dipandang. Jangan sampai ketika seharusnya guru berkomunikasi secara nyata, tetapi justru ia malah sibuk dengan dunia internetnya.

Bagi Anda yang kini memiliki profesi sebagai seorang guru, tetaplah semangat untuk menjadi guru yang hebat agar kerja keras yang sudah dilakukan mendapatkan nilai baik bagi kehidupan Anda.

Semoga bermanfaat.

***

Penulis: Diantika IE (Penulis, guru, dan Ketua KPKers Indonesia)

Editor: J. Haryadi

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button