Samsuri, Mengapa Engkau Harus Minggat?
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Samsuri, Mengapa Engkau Harus Minggat” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Muka lelaki itu terasa begitu dekat dengan wajah Samsuri. Semburan hawa dari mulutnya pun menyapu pipinya dibarengi aroma kurang sedap. Untuk selama beberapa detik Samsuri tidak berani menarik nafas.
Meski ada terbersit rasa khawatir menghadapi lelaki yang tampak sangar ini, Samsuri berusaha tetap tenang. Hatinya berbisik, Aah aku hanya mencoba mengingatkan, semoga saja dia tidak kesetanan.
Lelaki itu marah gara-gara malam itu Samsuri minta agar mereka tidak main kartu di dekat masjid terminal, ditambah dengan sepotong nasehat, “Tidak elok main judi di dekat tempat ibadah.”
Itu terjadi saat di malam remang-remang Samsuri menapakkan kakinya memasuki halaman masjid tersebut. Dilihatnya ada enam lelaki berkerumun. Ketika didekatinya ternyata ada empat orang sedang main gaple di bawah temaram cahaya lampu penerang halaman dan dua lainnya sedang menonton. Beberapa lembar uang tampak tertumpuk di lantai, posisinya persis di depan salah satu pemain.

Otak Samsuri langsung berpikir ini pasti judi maka tanpa ba-bi-bu dia ngomong, “Waahh.., Bapak-Bapak sebaiknya cari tempat lain, ini kan dekat sekali dengan tempat ibadah.”
Omongan itulah yang memicu bentakan dan semburan lelaki kekar itu ke muka Samsuri. Semburan dari mulut tanpa masker, tanpa penghalang.
“Hei, Kau pikir Kamu ini siapa? Main nyuruh-nyuruh seenaknya! Jangan sok tahu Kau!” Hardik lelaki kekar itu.
Dengan berusaha tetap tenang Samsuri menjawab, “Iya, maaf, saya hanya mengingatkan. Syukur kalau mau, kalau tidak ya terserah,” Samsuri menyambung lagi, “Soalnya itu kan tempat ibadah, kalau bukan kita yang menghormati, siapa lagi?”
Samsuri ngomong sambil menapukkan ke dua telapak tangannya di depan dadanya. Dia merasa tidak ada gunanya untuk melawan. Melawan hanya akan menghasilkan keributan.
“Huuhh…! Sok tahu banget Kamu jadi orang,” lenguh si lelaki kekar sambil melangkah pergi kembali bergabung dengan teman-temannya.
Mereka berkerumun meneruskan bermain kartu lagi.
Samsuri bersukur bentakan itu berakhir tanpa ribut. Dia lalu meneruskan langkah menuju tempat wudu, mau salat Isya. Memang itu tujuan awalnya ke masjid di terminal itu.
Tempat wudunya cukup bersih. Airnya lancar dan bening. Tampak cukup terawat. Dibasuhnya muka, tangan, dan kakinya dengan air segar.

Selesai wudu, Samsuri lantas masuk ke ruang dalam masjid dan bersiap salat. Ruangnya cukup bersih, terawat, dan tertata rapi. Ada sebersit bau harum parfum.
Baru saja Samsuri mengangkat tangan untuk takbiratul-ihram, pundaknya ditepuk orang dari belakang. Samsuri kaget bukan kepalang, Maklum, masih ada sisa sedikit was-was sehabis tadi dibentak lelaki kekar. Namun, ternyata itu tepukan orang yang ingin menjadi makmumnya.
Menyadari ada makmum, langsung suara bacaan ayat-ayat suci Al-Quran Samsuri keraskan. Suaranya yang merdu membuat para pemain kartu tadi berhenti sejenak dan menengok ke arah Samsuri. Entah apa yang ada di benak mereka.
Pada rakaat kedua, makmumnya bertambah. Samsuri melanjutkan membaca ayat-ayat suci dengan suara keras, tetapi lembut dan enak didengarkan. Demikian hingga pengucapan salam di akhir salat, tengok kanan, tengok kiri.
Saat menengok ke kiri itulah dia terkaget-kaget lagi. Ternyata lelaki kekar yang membentaknya tadi ikut makmum susulan (masbuk). Samsuri bingung. Dalam hatinya berkata, Wah, aku sudah berprasangka buruk, harus ngomong apa nih? Sambil tetap duduk di tempatnya, Samsuri menunggu makmumnya menyelesaikan salat.
Setelah salam, si lelaki kekar menyapa lebih dulu, “Assalamualaikum ..Taz.”
Samsuri dipanggil dengan sebutan ustaz, sebuah ungkpan rasa hormat. Doa orang ini terpapar efek keajaiban air wudu dan salat. Air wudu dan salat telah mendinginkan jiwa. Salat dan doa telah meluruhkan nafsu amarah berganti dengan perilaku ramah.
“Waalaikumsalam,” jawab Samsuri sambil langsung meminta maaf, “Mohon maaf tadi salah duga, saya pikir lagi main judi gaple.”
“Iya Taz, enggak apa-apa. Kami sedang menunggu bus sambil main gaple. Uang yang ada di sana tadi itu iuran kami mau beli nasi padang untuk makan malam, bukan uang taruhan,” lanjut si kekar.
Lantas dilanjutkan lagi dengan pujian dari si kekar, “Tadi Kami dengar bacaan ayat-ayat sucinya enak sekali didengarkan. Bacaan tadi itu menggerakkan Kami untuk menyusul, masbuk.”
Samsuri tertunduk dengan perasaan campur-aduk. Ada rasa lega, haru, dan bersalah. Bersalah karena telah berprasangka buruk dan menghakimi sesama muslim secara sembrono, ditambah pujian atas bacaan surat saat menjadi imam salat yang membuatnya jengah.
Pujian itu memunculkan lagi rasa khawatir atas sikap riya, sikap senang dipuji. Sikap yang sedang berusaha keras dia hindari saat menjadi muazin di sekitar masjid lingkungan rumahnya.
Kepala Samsuri tertunduk bertambah dalam. Betapa sebenarnya dia bukan siapa-siapa, tetapi hanya makhluk kecil yang bisa berencana dan lalu menjalani segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.
Samsuri takjub, dalam waktu hanya beberapa saat saja, malam hari ini sudah mendapat banyak sekali pelajaran berharga. Pelajaran hidup.
Pelajaran sebelumnya Samsuri dapatkan ketika baru saja melangkah masuk gerbang terminal. Dia harus membayar seribu perak kepada petugas dan dengan ketus Samsuri menanyakan karcis tanda terima.
“Mana karcisnya?” tanya Samsuri.
“Oh, sebentar jangan khawatir,” kata petugas lalu menyodorkan sekeping kertas tanda masuk area terminal.
Petugas itu kemudian dengan ramah memberi arah-arah ke tempat bis kota, bis antar kota, dan angkutan kota. Dia juga memberi arah menuju masjid.
Diluar dugaan Samsuri, ternyata satu fasilitas umum ini sudah banyak berubah. Beberapa tahun lalu dia juga melontarkan pertanyaan yang sama juga dengan nada ketus untuk uang yang sudah dia bayarkan, tetapi respon petugas dulu berbeda.
Dulu, petugas menjawab, “Halaah untuk apa karcis? Lihat tuh, bertebaran di jalan, jadi sampah!”
Dilihatnya memang banyak potongan-ptotongan kertas berceceran di jalan, “Ambil saja semaumu kalau mau.”
“Waah, untuk apa Pak?” Jawab Samsuri.
Dalam hatinya dia hanya ingin ikut memastikan uang itu harus masuk kas negara, bukan masuk kantong celana.
“Di sini mah receh Bos. Urus tuh di atas sana, trilyunan uang rakyat yang raib entah ke mana juntrungnya,” ujar petugas nyerocos tidak kalah ketus.
Apakah sekarang memang sudah semakin membaik, Samsuri kurang peduli. Sebagai warga dia hanya berharap negara makin kaya dan berjaya, jangan ada lagi uang negara yang salah alamat.
Samsuri berpikir, pelajaran apalagi yang akan dia dapat malam ini. Dia cukupkan doa dan zikirnya, lalu bangkit dan melangkah ke luar, menghirup udara malam sekitar masjid. Tidak disangkanya, bertambah orang yang duduk di emperan. Alasannya hampir sama, istirahat sambil menunggu bus yang akan dinaikinya datang, padahal sebenarnya orang datang dan pergi sesuai dengan kedatangan dan kepergian bus.
Calo-calo bus juga datang dan pergi merayu dan menawarkan armadanya. Rayuan calo ini banyak ragamnya dan mengundang rasa kagum Samsuri. Ada yang menawarkan AC, ada makan malam, snack selama perjalanan, ada toilet, ada wifi, tempat duduk bisa di atur, supirnya ahli, busnya bersih dan harum, dan banyak lagi lainnya.
Beberapa orang terbawa dan naik bus sesuai tujuannya. Para calo tetap di terminal dan tidak ke mana-mana, tetapi tentu saja mereka yang sudah susah payah menjaring calon penumpang dan mengeluarkan jurus rayuan mendapatkan upah atau komisi sesuai dengan prestasi kerjanya.
Samsuri juga tidak luput dari sasaran calo. Ditanya mau pergi ke mana, akan memakai bis yang seperti apa dan seterusnya. Dia belum bisa menjawab secara pasti. Ia justru sibuk berpikir bahwa apa yang dikerjakan calo itu mirip-mirip dengan apa yang dikerjakan para dai.
Dai sibuk dakwah ke mana-mana mengajak para pendengarnya untuk hidup di jalan yang lurus, tekun dan rajin beribadah, berbuat kebaikan, memperbanyak sedekah, dan banyak hal-hal baik lainnya. Termasuk, kalau pun tersesat, tersesatlah di jalan lurus.
Dai menjadi semacam calo untuk orang-orang yang ingin hidup bahagia di kehidupan nanti.
Samsuri yang juga muazin semakin merenung. Apa yang sudah diperbuatnya di dunia ini? Sudah luruskan hidupnya? Sudah cukupkah bekalnya? Sudah bersihkah akhlaknya?
Rasa capek dan lelah membawanya tidur di emperan masjid, berselimut sarung, dan berbantalkan tas kresek berisi baju dan sajadah.
Pagi Subuh Samsuri dibangunkan oleh sesorang. Dia adalah marbot yang hendak memulai membersihkan dan merapikan masjid untuk persiapan salat Subuh. Samsuri tidak sendiri, si lelaki kekar dan kawan-kawannya juga masih di sini. Bergantian mereka mandi.
Tiba saatnya azan, si lelaki kekar mendorong-dorongnya untuk azan, “Ayo Taz azan, sudah masuk waktu salat Subuh.”
Samsuri pun azan. Suaranya jelas dan mengalun merdu, mengajak dan mengingatkan kaum muslimin untuk bangun dan menunaikan kewajiban salat Subuh.

“Ash-shalaatu khairum minan-nauum,” salat itu lebih baik daripada tidur.
Mendengar azan, beberapa orang mulai berdatangan ke masjid. Banyak di antaranya para calon penumpang yang akan bepergian ataupun mereka yang baru datang entah dari mana. Tempat wudu terdengar ramai kecipak air dan emperan ramai langkah-langkah orang bersiap melaksanakan salat.
Ketika imam masjid datang, salat pun dimulai. Menurut marbot, tidak biasanya jemaah salat Subuh sebanyak sekarang ini. Dia mengira itu karena suara azannya Samsuri. Azan menjadi magnet, menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaah.
Mendengar komentar marbot, Samsuri pun kembali merenung. Dalam hati dia berkata, bukan azanku yang salah kalau aku takut riya. Kalau nanti aku adzan lagi di tempat lain dan mendatangkan jemaah lebih banyak dan pujian selangit, bukan salah azanku.”
Hati Samsuri menggeliat, ini semata pemberian yang di atas sana untukku. Kenapa aku harus minggat?
Purwokerto, 15 April 2023
Sarkoro Doso Budiatmoko.
***
Judul: Samsuri, Mengapa Engkau Harus Minggat?
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***









Mengapa harus minggat?
Tuhan maha memberi.
Syukuri apa pemberian tuhan.
Semua skenario darinya.
Tuhan yang maha membuat skenario.
Tuhan maha memberi.
Syukuri apa pemberian tuhan.
Semua skenario darinya.
Tuhan yang maha membuat skenario.
Keren
Terima kasih