CerpenLiterasiPratama Media News
Tren

Pikiran Mengembara Tanpa Tepi

Sebuah Cerpen karya Poedianto

Pikiran Mengembara Tanpa Tepi – Terik mentari tak alang-kepalang panasnya. Lelaki separuh baya sedang memarkir vespa di samping pos penjagaan sekolah. Desir angin semilir mengusap wajahnya dan tergerai rambutnya yang sudah memutih. Lelaki itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah pudar warnanya dan kemudian membersihkan debu yang mengotori keningnya.

“Assalamualaikum,” sapanya pada dua Satpam penjaga sekolah dan dijawab salam juga oleh kedua Satpam dengan menjulurkan tangan, bersalam-salaman.

“Minggu-minggu kok ke sekolah, Pak?” tanya seorang Satpam yang gempal pendek.

“Ya, aku menunggu Pak Mirzan dan Bu Lintang,” sahut lelaki itu sembari menyulut rokok.

Panas semakin panas, lalu-lalang kendaraan di jalan depan sekolah semakin ramai juga. Sayup-sayup terdengar lantun keroncong suara Waljinah dengan lagu Aja Cidra dari suara radio di warung seberang jalan. Lelaki setengah baya itu mengisap rokoknya dalam-dalam. Tak selang beberapa waktu Pak Mirzan dan Bu Lintang datang dengan berboncengan sepeda motor. “Sudah lama menunggu, Pak Adib?” tanya Pak Mirzan.

“Nggak juga, selang beberapa saat saja,” jawab lelaki separuh baya yang bernama Adib.

“Ini pak Adib, konsep yang sampean minta sudah saya ketik,” sahut Bu Lintang dengan memberikan beberapa lembar kertas ketikan.

Pak Adib menerimanya dan kemudian membacanya dengan seksama. Kepalanya mengangguk-angguk kecil tanda setuju dengan konsep yang dibacanya. “Oke, sudah bagus konsep ini, kalau begitu mari kita berangkat, teman-teman guru sekolah lain mungkin sudah datang di tempat pertemuan,” suara pelan Pak Adib. Dan ketiganya berpamitan kepada kedua Satpam.

Di suatu tempat pertemuan, ratusan guru sudah berkumpul. Baik guru SD, SMP, SMA, SMK, yang kesemuanya berstatus guru swasta. Sebagian mereka sudah menempati tempat duduk masing-masing. Pak Adib, Pak Mirzan, Bu Lintang juga sudah mengambil tempat duduk. Rupanya acara pertemuan baru dimulai. Tak lama kemudian, acara dibuka oleh penggagas pertemuan. Tanpa basa-basi penggagas langsung meminta pendapat dari perwakilan sekolah masing-masing.

Kemudian seorang guru yang berbadan pendek berdiri, lalu berjalan dengan kepala mendongkak menuju ke depan podium, lantas memegang pengeras suara. Dengan berapi-api mengutarakan pendapatnya mengenai segala problematika guru swasta. Di antaranya, adanya distorsi pendapatan antara guru negeri dan guru swasta. Antara skala prioritas sertifikasi guru negeri dan guru swasta. Kurang pedulinya pemerintah terhadap kesejahteraan guru swasta dan seabrek lagi kesenjangan antara guru negeri dan guru swasta.

“Oleh karena itu kita di sini sudah seharusnya bergandengan tangan dan merapatkan barisan sesama guru swasta untuk mengupayakan kesejahteraan guru swasta,” suaranya lantang melengking dan disambut tepuk tangan menggegana di ruangan pertemuan.

Tatkala giliran Pak Adib diminta mengutarakan gagasan di depan hadirin, Bu Lintang membisikkan beberapa kata ke telinga Pak Adib. “Paparkan dengan tenang pak,” bisik Bu Lintang.

Pak Adib berjalan ke depan dengan membawa map berwarna hijau. Bu Lintang dan Pak Mirzan wajahnya tampak menegang. Suasana ruang pertemuan sudah tenang kembali. Pak Adib yang guru matematika di salah satu SMP swasta itu mulai memaparkan pandangannya dengan suara pelan, namun dengan artikulasi yang jelas.

Pertama, perlunya dibentuk sebuah organisasi guru swasta yang rukun, kompak dan berpandangan kedepan. Organisasi tersebut harus dipimpin orang-orang yang berjiwa patriot serta berwawasan komperehensif. Tentunya organisasi tersebut harus berbadan hukum. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi harus bertujuan membela kepentingan guru. Baik peningkatan kualitas guru serta peningkatan kesejahteraan guru.

Bentuk organisasinya cukup sederhana, tidak muluk-muluk, tetapi ramping dan efisien. Organisasi yang dimaksud adalah semacam paguyuban, himpunan, ikatan atau persatuan. Pak Adib memberi ilustrasi beberapa nama, misalnya : Paguyuban Guru Swasta Indonesia, Himpunan Guru Swasta Nusantara, atau bisa dengan nama Ikatan Guru Swasta Bumi Pertiwi. Organisasi ini harus bebas dari nuansa politik partai. Memang sudah ada PGRI, tetapi tidak semua guru masuk menjadi anggota PGRI.

Kedua, diperlukan sebuah badan usaha yang bisa menopang manajemen jalannya organisasi. Misalnya membentuk koperasi guru swasta. Ketiga, harus mempunyai cita-cita yang luhur yang diperuntukkan sebesar-besarnya kepada kepentingan pendidikan.

“Jadi tidak hanya semata persoalan sertifikasi guru, tunjangan insentif guru. Itu juga sangat penting, tetapi yang lebih penting lagi guru juga harus memikirkan kelangsungan pendidikan yang seperti diamanatkan oleh pendiri-pendiri negara. Yaitu pendidikan berkarakter dan berbudaya Indonesia. Tetapi yang kita alami sekarang, pendidikan sekarang sudah melenceng jauh ke arah pendidikan yang berkarakter individualis dan semakin tercabut dari akar budaya bangsa. Apa ekses dari semuanya itu, mahalnya biaya pendidikan. Nah, kalau sudah demikian maka yang bisa menikmati pendidikan hanya kalangan yang mampu secara finansial. Apalagi biaya ke jenjang pendidikan tinggi, sangatlah sulit bagi orang tua murid menguliahkan anaknya. Rekan-rekan guru sekalian yang saya cintai, sekaranglah perlunya sebuah organisasi guru yang kuat, mandiri dan mempunyai cita-cita yang luhur. Semuanya ini semata-mata kita peruntukkan untuk anak cucu kita ke depan,” papar Pak Adib dengan mimik serius.

Hening ruangan itu, semua yang hadir terbawa oleh sebuah ajakan luhur, tanpa pamrih dan mereview kesadaran akan eksistensi peranan sebuah profesi yang bernama guru.

Bersamaan dengan itu, angin semilir masuk lewat pintu dan jendela, dan mengalir pelan mengusap wajah-wajah yang ada di dalam ruangan pertemuan. Bu Lintang menarik napas dalam-dalam dan melirik Pak Mirzan yang duduk di sampingnya.

Setelah Pak Adib memaparkan gagasannya, ada tiga guru juga yang telah mengutarakan pemikirannya. Pada intinya semua pandangan para guru adalah sama. Yaitu keprihatinan terhadap kondisi pendidikan. Kurikulum dan aturan pendidikan yang sering kali berganti, bangunan sekolah yang kurang memadai, banyaknya gedung sekolah yang ambruk sehingga siswa belajar di pendopo kelurahan, tawuran sesama siswa, sesama mahasiswa, gaji guru yang masih jauh di bawah upah minimum regional. Dana BOS, Bopda yang kadang kala terlambat turun. Narkoba, miras, pergaulan bebas dan segala penyimpangan moral lainnya, tidak jarang menyentuh dunia pendidikan.

Pada giliran acara tanya jawab, dilakukan dengan santai, suasana kerukunan, gayeng, dan penuh canda. Memang sesekali terjadi perdebatan kecil, tetapi dalam sekejap bisa terselesaikan. Ini karena kesadaran para guru sudah dewasa dan mempunyai kerekatan rasa senasib, sepenanggungan. Maka dalam kata akhir pertemuan guru swasta siang itu, disepakati perlunya sebuah paguyuban guru swasta dan mempunyai tujuan yang mulia. Mencerdaskan anak didik serta menyejahterakan guru dan karyawan sekolah.

Penutupan pertemuan dengan acara ramah-tamah, makan siang dan di-stel-kan lagu-lagu campursari. Pak Mirzan dan Bu Lintang menikmati makan siang, sementara Pak Adib menyanding segelas kopi dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Di luar tampak langit biru bersih dan selembar awan putih melintas, meliuk, menari dengan gemulai. Mata Pak Adib memandang rekan-rekan sejawat guru yang sedang menikmati makan. Pak Adib mengangguk-angguk kecil serta pikirannya mengembara tanpa tepi.

S e l e s a i

***

Judul: Pikiran Mengembara Tanpa Tepi
Pengarang: Poedianto
Editor: AN

Profil pengarang:

Poedianto sosok guru inspiratif. Pria kelahiran Surabaya, 18 Oktober 1959 yang akrab disapa Poedi ini selalu punya ide kreatif dalam memanfaatkan waktu luangnya. Terbukti ia mampu menciptakan 207 lagu Jawa di sela-sela kesibukannya mengajar materi Bahasa Jawa di sekolah tempatnya mengajar.

cerpen senandung kasih di sungai batanghari
Poedianto, pengarang (Sumber: koleksi pribadi)

Alumni Program S1 Jurusan Sastra Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mengungkapkan, ”Semua lagu-lagu yang saya ciptakan ini hanya sebagai karya dasar saja. Namun, jika ada penyanyi yang berminat memakai lagu karya saya, tentu saya sangat senang. Mereka boleh menyanyikan lagu-lagu tersebut. Silahkan saja dilihat, semuanya sudah ada chanel YouTube saya.”

Selain suka menulis lagu, ternyata Poedi juga sangat mencintai tradisi leluhurnya. Ia sangat intens terhadap perkembangan seni tradisi seperti wayang kulit, ludruk, janger, ketoprak, keroncong, langgam, dan campur sari. Bukan hanya itu, ia juga sering menulis berbagai cerita rakyat, legenda, epos,  dan cerpen.

Menurut alumni Program Pascasarjana (S2) Konsentrasi SDM Ekonomi dari Universitas Mahardhika Surabaya ini, seni dan tradisi sebaiknya diajarkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai tingkat atas. Semua bidang seni wajib dipelajari, baik seni tari, seni musik, seni suara, karawitan, pedalangan, dan berbagai bidang seni lainnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button