Perayaan Idulfitri di Tengah Gejolak Pandemi di Taiwan
Curah hujan yang cukup deras tidak menyurutkan semangat saya untuk berangkat dari tempat kerja menuju Kota Taipei.
Perayaan Idulfitri di Tengah Gejolak Pandemi di Taiwan – Hari ini adalah hari ketiga Idulfitri 1 Syawal 1443 Hijriah. Semua muslim di seluruh penjuru dunia merayakan salat Idufitri secara berjamah untuk merayakan hari kemenangan, setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa, menahan haus, lapar serta menjauhi segala larangan-Nya dan memperbanyak amal kebajikan.
Tahun ini adalah Idulfitri ke-11 saya berada di Taiwan, juga sebagai Idulfitri ke-3 di tengah wabah pandemi covid-19. Saat ini kondisi Taiwan sedang tidak baik-baik saja. Awalnya Masjid Agung Taipei yang merupakan Masjid tertua di Taiwan akan melaksanakan salat Idulfitri pada Senin (02/05/2022) yang bertepatan dengan 1 Syawal 1443 Hijriah.
Jadwal salat Idufitri berjamaah terpaksa oleh pemerintah setempat dikarenakan kasus penularan lokal yang sedang melambung tinggi hingga mencapai 15.000 orang. Akibatnya semua masjid ditutup untuk umum guna mencegah terjadi kluster baru penyebaran virus covid-19. Untungnya masih ada kegiatan salat Idulfitri yang diadakan Taipei Travel Plaza untuk beberapa gelombang.

Curah hujan yang cukup deras tidak menyurutkan semangat saya untuk berangkat dari tempat kerja menuju Kota Taipei. Meskipun harus kebagian kloter terakhir salat Eid, yaitu pukul 09.10-09.30 waktu Taiwan. Karena dari tempat kerjaku harus naik bus terlebih dahulu, kemudian berganti kereta menuju Taipei Stasion.
Cuaca dingin, angin yang berembus cukup kencang disertai hujan mewarnai kondisi cuaca pagi itu. Terlihat warna-warni payung yang dibawa teman-teman pekerja migran menuju tempat salat atau mereka yang sedang meninggalkan lokasi Taipei Travel Plaza. Pada gelombang terakhir ini, jamaah salat tidak terlalu banyak. Saya duduk memenuhi syaf belakang bersama rekan-rekan lainnya.

Setelah melakukan salat, saya bergegas menuju area Indonesian street untuk membeli makanan khas Indonesia untuk mengobati rindu “masakan kampung halaman” pada suasana lebaran.
Sesegera mungkin saya meninggalkan lokasi salat untuk menghindari antrean dan gerombolan teman-teman yang membeli makanan di sekitar lokasi tersebut. Saya membeli gado-gado, bakwan, dan goreng tempe di Toko ”Dapur Nusantara Bakso Asli Malang” demi mengobati kerinduan pada masakan ibu dan suasana perayaan Idulfitri di kampung halaman.
Saat tiba di lokasi, suasana rumah makan sudah ramai dipenuhi oleh Warga Negara Indonesai (WNI) yang merayakan lebaran. Kebetulan Senin jatuh pada tanggal merah, pengganti Hari Buruh Sedunia sehingga pekerja pabrik libur.

Suara takbir terus bergema dari musik yang diputar di toko tersebut, semakin memberikan suasana kental saat lebaran. Berkumpul dengan teman-teman, menikmati hidangan nusantara, dan mendengarkan suara takbir adalah cara menikmati dan seolah sedang berada di kampung halaman. Namun, tidak dengan diriku yang hari ini dibatasi waktu keluar karena harus segera pulang menyiapkan makan siang untuk nenek dan majikan karena mereka tidak memberiku libur hari ini.
Setelah memesan gado-gado, mengambil dua tempe goreng, dan bakwan, lalu membayarkan ke kasir, saya pun meninggalkan toko Indonesia tersebut. Meskipun dibatasi, saya sangat senang diberi izin keluar untuk mengikuti salat Idulfitri 1 Syawal 1443 Hijriah pada tahun ini. Semoga ini menjadi Idulfitri terakhir saya di negeri orang. Tahun depan saya sudah dapat merayakannya bersama putra dan keluarga besar di Indonesia.
Idulfitri pada masa pandemi, tidak hanya menjadi momen saling memaafkan. Namun, juga pendewasaan dan kesabaran menahan rindu pada keluarga di kampung halaman.
Taipei, 4 Mei 2022.
***
Judul: Perayaan Idulfitri di Tengah Gejolak Pandemi di Taiwan
Penulis: Etik Nurhalimah, S. S.
Editor: J.Haryadi
Keterangan:
Etik Nurhalimah, seorang warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini bekerja di Taiwan. Menyelesaikan program, strata 1, di Universitas Terbuka Taiwan (UT-Taiwan) di jurusan Sastra Inggris Minat Bidang Penerjemah (S.S). Buku perdana bertajuk “Wanita di Balik Badai” terbit pada 2015 dan pada 2016, ia memenangkan Lomba menulis cerita rakyat di Provinsi Jawa Timur dengan karyanya berjudul “Si Labu Tampan”.
Pada 2017, wanita yang menggunakan nama pena Etty Diallova ini memenangkan Lomba menulis bergengsi Taiwan Literature Award of Migrans (TLAM) 2017 dengan judul Tulisan “MERAH” yang kemudian diadopsi menjadi Film dan tayang di TV Taiwan. Peraih juara tiga Bilik Sastra Voice of Award (VOI) 2017 ini pernah menjadi tamu RRI Pusat dalam acara Temu Wicara Membedah Sastra Pekerja Migran di Negeri Orang.
Karya Etik Nurhalimah berjudul “Pelangi di Kota Changhuwa” berhasil menjadi juara 1 Lomba cerpen inspiratif Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (Formit) pada 2018. Pada 2019, ia berhasil meraih juara dua Lomba Esai KDEI 2019 dengan tema Memaknai Keberadaan WNI di Taiwan dalam Bidang Pendidikan. Pada 2020, karyanya yang berjudul “Janji di Masa Pandemi” berhasil meraih dua kategori penghargaan di Taiwan Literature Award for Migrans (TLAM) 2020.
Kecintaannya pada literasi juga mengantarkannya menjuarai beberapa kali perlombaan puisi, seperti Juara 2 Lomba Puisi yang diadakan oleh BP2MI dan naskah terbaik lomba puisi Ming-chi University of Technology Taiwan.
Reporter Pratama Media News untuk Taiwan kelahiran Way Jepara, Lampung Timur ini juga aktif sebagai kontributor media TIMedia di Taiwan. Saat ini Etty, tengah melanjutkan program Pascasarjana di IAI An-Nur Lampung jurusan Manajemen Pendidikan dan sebagai content creator di platform blockchain.








