LiterasiPratama Media NewsPuisi

Cinta Itu …

Sebuah puisi yang membahas tentang makna cinta karya Syahrul Sehabudin

Note: “Cinta itu seperti melukis”

Cinta?
Apa itu cinta?
Mengapa manusia merasakan cinta?
Dari mana cinta datang di hati manusia?

Aku sungguh bertanya-tanya, mengapa banyak persepsi tentang cinta?
Ada yang bilang, cinta adalah rasa suka terhadap sesuatu atau seseorang.
Baik lawan jenis, benda, hewan atau apapun itu.

Jika benar demikian, maka sifatnya seperti kebetulan,
tidak disengaja, juga tidak direncanakan.
Dan suka, anugerah yang jatuh di dalam hati manusia.
Ketika seseorang tidak sengaja suka terhadap sesuatu,
makanya disebut “jatuh cinta”, “falling in love” dalam bahasa kerennya.

Cinta itu indah
Ilustrasi tentang cinta itu indah(Sumber: pixabay.com)

Yang lain bilang cinta itu seni,
karena cinta mengharuskan seseorang paham dulu bagaimana caranya mencintai.

Urusannya bukan apa yang dicintai atau siapa yang dicintai,
tapi bagaimana cara dia mencintai.

Dapat objek sebagus apapun,
tidak akan berdampak baik jika cara mencintainya salah.
Tidak sesuai dengan semestinya.

Saking kompleksnya bahasa cinta,
ada banyak cara juga dalam mencintai.
Namun, bagaimana pun caranya,
tetap tujuannya menemukan jawaban dari tanya bagaimana cara mencinta.

Katanya Cinta itu aktif, tidak pasif.
Ketika seseorang menyatakan rasa cintanya pada yang ia cinta,
apakah selesai hanya dengan kata-kata?
Tidak!

Cinta tidak mendorong kita untuk diam di tempat.
Cinta mendorong kita melangkah melakukan perbuatan yang lebih indah,
bukan kerusakan, sebab cinta itu sendiri adalah keindahan.

Ketika merasakan kehadiran cinta dalam hati, orang  menyebutnya jatuh cinta.

Bagiku, cinta adalah membangun, bukan terjatuh.

“Aku jatuh cinta padamu”

Cintanya bagus, jatuhnya itu yang jelek.

Banyak sekali cara orang dalam belajar cinta,
dari yang begitu aktif dan ekspresif,
hingga seseorang yang tidak bisa mengekspresikan rasa cinta yang ia punya.

Cinta itu indah
Ilustrasi: Cinta itu indah (Sumber: Republika.co.id)

Ada orang yang hanya fokus pada apa yang layak aku cintai,
hingga ujungnya dia hanya ingin dicintai.
Akhirnya akan menjadi pilih-pilih,
sebab ketika sesuatu itu tidak layak lagi dicintai dalam pandangannya,
selesailah cinta itu.

Ada juga orang yang mengeksploitasi atau memanfaatkan yang dicintainya,
untuk kepentingan sendiri.
Artinya orang yang dia cintai tak mendapatkan keuntungan apapun.
Ia hanya diperdayakan oleh cinta orang lain terhadap dirinya,
seperti mencintai padahal hanya sebatas memanfaatkan.

Ada juga orang yang takut kehilangan yang ia miliki,
misalnya sering kita dengar kalimat “aku mencintaimu selamanya”,
“cintaku gak akan pernah berubah”, “kamu adalah milikku”.

Orang seperti ini, sekali dia ditinggalkan akan mengalami trauma yang berkepanjangan.
Ia memandang cintanya adalah hak miliknya sendiri.

Benar, kehilangan sesuatu itu terasa menyakitkan,
tapi bisa jadi tidak merugikan.
Mungkin saja kehilangan justru adalah kebaikan.

Seperti rem dan gas,
seharusnya cinta itu menjadi penggerak sekaligus yang membuat berhenti.
Mengubah  dari yang baik kepada sesuatu lebih baik lagi.

Ada juga yang memperlakukan cinta itu seperti jual beli.
“Dengan modal gaya sekian, aku harus dapat sekian”.
Misalnya, pacaran tiga tahun, aku dapat apa?
Sementara cinta akan selalu memberi, tanpa meminta kembali.

Nah, jika salah gaya dalam mencintai,
cinta yang semula luar biasa,
akan berbalik menjadi sumber kesusahan dan tak bermakna.

“Cinta itu watak. Urusan karakter. Jadilah karakter pencinta”

Hati-hati dengan kata-katamu karena akan menjelma perilaku,
perilaku menjadi kebiasaan,
kebiasaan akan menjadi watak,
dan watak menentukan takdirmu,
begitu kata sang Filsuf.

Jika kita belajar menjadi pecinta,
maka kecil kemungkinan hanya bisa mencintai satu objek saja.

Kita akan mencintai semua,
dengan cinta yang sesuai dengan porsi dan tempatnya,
hingga tidak ada kebencian yang tersimpan pada diri.

Jika hanya ingin mencintai satu objek saja,
itu namanya egois yang diperluas.

“Cinta itu seperti melukis”

Kebanyakan pelukis mencari objek yang bagus untuk dilukis.
Tapi, jika ia berlatih melukis yang baik,
objek yang jelek pun akan menjadi bagus.

Sesungguhnya cinta adalah keindahan yang dihadirkan oleh Yang Maha Indah,
di hati-hati yang indah untuk melahirkan keindahan.

Ketika cinta terhadap apapun hadir dalam hatimu,
cinta itu harus menjadi pendorong untuk melahirkan keindahan.
Maka mari belajar cinta dari Maha Sumber Cinta.

Ia bilang, “jika kau mencintai-Ku maka ikutilah kekasih-Ku.”

Garut, 30 Agustus 2021.

Note: “Cinta itu seperti melukis”

***

Pengarang: Syahrul Sehabudin

Editor: JHK

PENGUMUMAN:

Kepada para penggemar karya sastra yang berminat menampilkan hasil karyanya, redaksi Pratama Media News bersedia membantu menerbitkan hasil karya Anda sepanjang memenuhi kriteria.

Karya sastra yang dikirim merupakan hasil karya sendiri (original) dan belum pernah diterbitkan di media mana pun, baik media cetak maupun media digital. Karya sastra yang dikirim wajib disertai foto diri dan biodata singkat pengarang.

Silakan karya sastra Anda baik berupa puisi maupun cerpen dikirim ke email:

pratamainovasindo@gmail.com.

REDAKSI Pratama Media News

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button