Mbak “D” sang Driver Taksi Online Cantik
Selalu bikin betah dan penasaran penumpangnya
Mbak “D” sang Driver Taksi Online Cantik – Sopir taksi online (takol) yang kutumpangi ketika pulang dari lokasi banjir ternyata seorang wanita cantik berhijab. Sikapnya begitu sopan. Gaya bicaranya ramah. Bikin betah siapa saja yang jadi penumpangnya. Memang sudah seharusnya begitu kalau usaha ingin laris, apalagi usaha di sektor jasa.
Sebut saja nama sang driver taksi online cantik tersebut Mbak “D” (Driver). Sekilas dari kaca spion kulihat wajahnya memang cantik. Ya cantik di balik masker yang menutup sebagian wajahnya.
Musim maskeran ini memang menguntungkan bagi kebanyakan kaum hawa. Tanpa perlu ber-make up berlebihan, sepanjang memakai masker pasti akan terlihat lebih cantik ketimbang jika tidak maskeran. Pun Mbak D ini. Namun, bukan karena hal itu yang membuatku jadi membatalkan niat untuk membuka aplikasi kitab suci dalam perjalanan pulang. Aku lebih memilih mau ngobrol saja sama Mbak D, meskipun hanya dapat bertatap muka melalui kaca spion.

Semula aku tidak bermaksud mengajaknya ngobrol karena khawatir membuatnya tidak nyaman. Lha dia yang nyetir je. Namun, ternyata malah Mbak D ini yang memulai obrolan. Ya, obrolan biasa sih, seperti persoalan banjir. Namanya juga lagi musim hujan.
Lama-lama aku jadi penasaran. Seorang wanita muda dan cantik, kok mencari penghasilan dengan menjadi pengemudi taksi online.
“Maaf Mbak, kalau boleh tahu, Anda ini jadi driver taksi online ini sebagai kegiatan sampingan atau utama?” tanyaku sopan.
“Hmmmm kegiatan utama Pak,” jawabnya dengan nada bicara ragu, sambil agak tersenyum penuh arti.
Sepertinya ada sesuatu yang menarik di balik ucapannya tadi, ujar batinku. Tapi bagaimana cara bertanyanya agar dia tidak tersinggung.
“Sudah lama jadi driver taksi online?” tanyaku kembali agak berhati-hati.
“Sejak tahun 2018. Sudah jalan hampir tiga tahunan,” jawabnya singkat.
“Oh, cukup lama juga ya,” jawabku kembali.
“Apa pertimbangannya dulu memutuskan untuk menjadi driver taksi online?” tanyaku lagi.

Barulah Mbak D bercerita banyak tentang dirinya. Tutur bahasanya enak. Struktur cara berceritanya bagus. Dalam hati aku memujinya. Sambil dengan sabar dan penuh perhatian mendengarkan ceritanya. Harus kuberi apresiasi kesediaannya untuk bercerita.
Pendeknya, rupanya dulu Mbak D ini karyawan bank. Namun ketika hamil anaknya yang ketiga, kandungannya bermasalah. Ini membuatnya jadi sering izin tidak masuk kerja untuk berobat. Dia sendiri akhirnya merasa tidak enak dan terpaksa memutuskan resign.
Tahun 2018 dia minta izin suaminya untuk kembali bekerja. Entah kenapa pekerjaan yang dipilihnya justru mengikuti jejak suaminya sebagai driver takol. Jadilah mereka suami-istri berprofesi sebagai driver takol.
“Jadi mbak ini sarjana Ekonomi?” tanyaku penasaran.
“Bukan Pak. Saya sebenarnya sarjana Sastra, lulusan Sastra Jepang,” jawabnya sambil tertawa.
Geli sendiri dia. Seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. Lulusan Sastra Jepang, kerja di bank, dan kini jadi sopir takol. Ekspresinya tersebut dalam hatiku berada di antara rasa kagum, heran, dan prihatin.
Pantesan tutur bahasa dan cara berceritanya rapi dan bagus. Mencerminkan tingkat intelektualitasnya.
“OK. Tidak ada yang salah menurut saya. Justru saya mengapresiasi. Hanya saja, kenapa ini menjadi kegiatan utama?” tanyaku lebih lanjut.
Aku seperti memperoleh jalan untuk bertanya lebih lanjut. Pertanyaan itu sebagai penghalus dari pertanyaan “Lha suami mbak ngapain?”
“Iya pak. Saya mempunyai tiga orang anak yang harus saya hidupi. Terutama sejak suami saya meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit,” katanya sendu. “Tapi bukan karena Covid,” buru-buru dia menjelaskan.
“Ooh, saya turut berduka Mbak,” jawabku sendu.
“Terima kasih Pak,” balasnya singkat.

Aku semakin respek dengan Mbak D atau ibu ini. Sebagai wujud tanggung jawabnya atas tiga orang anaknya yang masih kecil, sampai menjadi sopir takol dijalani hampir saban hari. Usianya baru 41 tahun, tapi semangat hidupnya luar biasa.
Dia bercerita hanya bekerja dari pagi sampai sore. Petang hari biasanya sudah di rumah. Kecuali kalau ada kebutuhan lebih yang menuntutnya memperoleh penghasilan lebih besar, terkadang pulang agak malam. Uugh...
Tidak ada nada sedih dalam tutur ceritanya. Dari nada bicaranya aku dapat membaca kalau Mbak D seorang wanita yang enerjik dan optimis. Dari sisi itu aku menghormati dan menghargainya. Sebagai orang yang lebih tua, wajar kalau kuselipkan pesan-pesan bijak normatif agar dia tetap bersemangat dan tidak menyerah menjalani kehidupan.
Obrolan berlanjut hingga aku tiba di tujuan. Hari sudah sore, menjelang Maghrib. Mbak D mestinya langsung akan pulang. Sebelum turun dari kendaraannya, kuberikan penggantian ongkos tol sepuluh kali lipat. Dia menolak dengan halus.
“Tolong ini diterima Mbak. Saya mengerti situasi yang Mbak hadapi,” ujarku padanya dengan nada lembut.
“Terima kasih Pak,” ujarnya datar.
“Sama-sama. Assalamualaikum,” jawabku menutup pembicaraan kami.
Aku keluar dari mobil dan pintu kututup. Segera aku meninggalkan kendaraannya dan berjalan kaki beberapa belas meter menuju rumah.
***
Aku tidak menyesal telah membatalkan membuka aplikasi kitab suci untuk memuliakan firman-firman Tuhan di perjalanan tadi, sebab kemudian di dalam kendaraan itu ternyata aku tak cuma memuliakan, malah mengamalkan firman-firman-Nya. Aku telah memotivasi dan membahagiakan perasaan orang lain dan berbagi rezeki kepadanya.
Kita sering mengalami, ketika sedang berada dalam situasi sangat membutuhkan, tiba-tiba datang solusi dari sumber yang tak pernah kita sangka-sangka. Namun, kita tidak pernah tahu, ketika kita sedang berbuat baik kepada orang lain, perbuatan itu ternyata menjadi jalan penyelamat bagi orang lain. Sebaliknya orang lain juga tidak pernah tahu, ketika dia sedang berbuat baik kepada kita, kebaikan itu menjadi jalan penyelamat bagi situasi sulit yang sedang kita hadapi.
Tetaplah dan teruslah berbuat baik. Apa pun itu dan kepada siapa pun. Lalu bersyukurlah, sebab Tuhan tidak akan menggerakkan hati seseorang untuk berbuat baik, kalau Dia tidak berkenan dengan orang itu. Orang yang berbuat baik itu adalah orang-orang pilihan di mata Tuhan. Hanya saja, kita seringkali tidak peduli…
***
Profil penulis:
Yusuf Iskandar adalah seorang Independent Mining Consultant yang pernah bekerja di Mining Company dan Minimarket. Alumni SMA Negeri 1 Kendal ini tinggal di Yogyakarya dan mempunyai hobi traveling, blusukan, petualangan, dan menulis apa saja yang bermanfaat. Dalam tagline halaman akun Facebook-nya, dia menulis “Selalu ada cerita dan inspirasi tiap hari”.
Editor: JHK








