Toga dengan Segala Perjuangan untuk Mendapatkannya
Sebuah angan yang mengembara sejak 21 tahun lalu
Toga dengan Segala Perjuangan – Seminggu menjelang Upacara Penerimaan Ijazah (UPI) yang insya Allah akan dihelat pada Minggu, 13 Desember 2020 mendatang. Universitas Terbuka (UT) Layanan Luar Negeri meminta semua wisudawan dan wisudawati mengirimkan foto dengan mengenakan jubah dan toga, serta memegang map Ijazah. Semua perlengkapan ini kami terima seminggu lalu yang dikirim langsung dari Indonesia oleh Universitas Terbuka pusat.
Ada rasa haru yang menyeruak saat saya membuka bungkusan jubah dan toga, lalu memakainya. Angan ini mengembara sejak 21 tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku kelas dua SLTP Negeri Way Jepara. Saat itu perayaan 17 Agustus yang identik dengan perlombaan carnaval atau pawai.

Para murid diminta untuk mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia seperti pakaian adat Aceh, Lampung, Jawa, Bali, dan sebagainya. Pun dengan berdandan dengan menggunakan pakaian profesi, seperti seragam polwan, polisi, dokter, perawat, dan sebagai. Masih membekas dalam ingatan saat itu betapa saya ingin berdandan ala “sarjana”, lengkap dengan toga dan ijazah. Dengan susah payah saya mendapat seragam tersebut dengan menyewa dari sebuah salon yang menyewakannya.

Uang untuk menyewa saya kumpulkan jauh-jauh hari karena ekonomi keluarga memang sulit. Saat itu, saya pun tidak sempat foto untuk mengabadikannya karena untuk foto di tukang foto carnaval harus merogoh kocek Rp 5.000 – sebuah jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran waktu itu. Uang segitu bisa untuk membeli beras beberapa Kilogram.
Siapa sangka, hari ini saya memakai jubah dan perlengkapan milik saya sendiri yang saya dapatkan dengan perjuangan berdarah-darah. Dulu, saya mendapatkan ejekan dari teman-teman yang mengatakan, “Hah! TKW saja sok-sok-an kuliah. Jadi sarjana tidak menjamin kesuksesan.”

Justru saya abaikan semua cibiran itu. Itu semua saya jadikan lecutan untuk mewujudkan impian menjadi seorang sarjana. Seperti apa yang dikatakan tokoh Afrika Selatan, Nelson Mandela, “Pendidikan adalah sejata paling ampuh untuk mengubah dunia dan memerangi kebodohan.”
Perjuangan tidak serta merta berjalan mulus karena bos tempat saya bekerja pun tidak mengizinkan saya kuliah.
“Kamu di sini kerja. Saya gaji, jadi lakukan tugasmu dengan baik,” ucapnya suatu hari saat saya mengutarakan ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka Taiwan.
Apakah saya menyerah? Tidak! Karena perjuangan telah saya mulai setahun sebelumnya saat saya mulai menggeluti dunia menulis. Hidup adalah perjuangan dan pantang menyerah, selagi napas masih dikandung badan.

Bekerja, kuliah, dan menekuni hobi menulis tentunya tidak mudah. Perjuangan pun tak terelakan hingga lingkar hitam mencumbu mata karena kurang tidur dan sering bergadang. Namun, sebuah hasil takkan mendustai usaha. Terbayar manis di penghujung tahun 2020. Meskipun ini bukanlah akhir, tetapi estafet kelanjutan untuk perjuangan lain di masa depan. Semoga perjuangan ini memberi inspirasi kepada teman-teman lain yang saat masih berjuang untuk kelulusan.
“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh pun masih di antara bintang-bintang,” ujar Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia.
Taipei, 6 Desember 2020
***
Penulis: Etik Nurhalimah, S. S.
Keterangan:
Penulis adalah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Lampung Timur yang kini sedang bekerja di Taiwan
Editor: JHK







