Disiplin Gerbang Aktualisasi Potensi Diri
Maria Elfia Arkian, "Disiplin bukanlah sebuah proses yang otomatis. Disiplin memang mesti dijalani, dihidupi untuk dimiliki."
Pratama Media News – Disiplin Gerbang Aktualisasi Potensi Diri – Menegakkan disiplin itu ibarat menegakkan benang basah, meskipun mustahil berhasil, tetapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Sebab, menjadi manusia yang disiplin bukanlah sebuah proses yang otomatis. Disiplin memang mesti dijalani, dihidupi untuk dimiliki.
Era disrupsi menandai segala perubahan yang terjadi serba cepat dan masif karena berkembangnya berbagai inovasi dan kreativitas manusia yang serba digital. Ketika kita salah mengambil langkah atau mencoba untuk berhenti sejenak, tanpa membuka diri untuk belajar maka kita akan terlempar dari zona disrupsi yang menuntut setiap orang untuk meningkatkan kreativitasnya agar semakin inovatif dan kompetitif.
Akan tetapi, tidak setiap orang maupun kelompok, menyiapkan dirinya secara mandiri, matang, dan bertanggung jawab untuk membudayakan disiplin di dalam hidup pribadi maupun komunitasnya. Demikian juga di lembaga atau instansi terkait yang memiliki peran sangat fundamental seperti lembaga pendidikan.

Sebagian orang cenderung berpikir bahwa waktu yang kemarin sama dengan hari ini. Begitu juga hari ini dan esok dianggap sama saja, padahal satu menit yang telah berlalu, berbeda dengan satu menit yang akan datang. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Heraclitus (535-475 SM), seorang filsuf kelahiran Ephesus. Menurutnya, segala sesuatu ibarat arus sungai yang mengalir. Tidak ada seorang pun dapat masuk ke aliran sungai yang sama untuk kedua kalinya. Demikian juga, segala sesuatu di dunia ini tidaklah tetap karena semuanya akan berubah sangat cepat.
Kekuatan Disiplin
Secara etimologis, disiplin berasal dari kata “disciple” berarti “belajar” (Suparman S., 2010). Menurutnya, disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang melakukan sesuatu menjadi lebih baik. Dengan kata lain, disiplin berkaitan dengan ketaatan dan kepatuhan terhadap norma-norma, peraturan, hukum, ketentuan dan undang-undang yang berlaku disertai kesadaran dan keikhlasan hati.
Selain itu, disiplin juga berasal dari kata Latin “discipulus” berarti “murid” (Donie Koesoema A., 2007). Menurut Doni, istilah ini mengacu pada proses pembelajaran. Disiplin selalu dihubungkan dengan konteks relasi antara guru dan murid, serta lingkungan yang menyertainya, seperti tata peraturan, tujuan pembelajaran, dan pengembangan kemampuan dari sang murid melalui bimbingan guru.
Disiplin pada dasarnya merupakan sebuah siklus hidup, sebuah proses menjadi dengan memaksimalkan kekuatan dari dalam diri seseorang. Oleh karena itu, disiplin seyogyanya dilatih, butuh pembiasaan, dijalani dengan sabar, juga menginternaslisasikan nilai-nilai yang menyertainya, sambil membatinkannya agar pada waktunya menjadi milik. Tanpa habituasi atau pembiasaan, seseorang tidak akan menjadi manusia yang memiliki disiplin diri dan etos kerja yang tinggi.
Selain itu, dibutuhkan pula ketaatan atau kepatuhan untuk menanggapi semua aturan dan norma yang ditetapkan untuk diberlakukan dalam hidup bersama. Namun, bukan ketaatan buta, melainkan ketaatan yang dilandasi kesadaran kritis yang terus bertumbuh dalam diri seseorang maupun sebuah komunitas yang bertujuan untuk membangun masa depan dan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Penerapan disiplin melalui kepatuhan pada norma atau aturan hendaknya tidak diseragamkan pada setiap usia perkembangan. Penerapan disiplin terhadap anak, perlu dibedakan dengan penerapan disiplin terhadap remaja, orang muda, dan kaum dewasa umumnya. Namun demikian, penerapannya bukan tiba masa tiba akal, melainkan mesti dimulai sejak dini dari dalam keluarga. Disiplin yang dimulai sejak dini dalam keluarga akan bertumbuh dengan sangat kuat dalam diri seseorang.
Sementara itu, dalam menumbuhkan disiplin, kesediaan, konsistensi, dan komitmen sebagai satu mata rantai yang utuh, mesti seiring sejalan. Tanpa kesediaan, konsistensi tidak terwujud. Sebaliknya, tanpa konsistensi, komitmen tidak akan terpenuhi. Kesediaan mengandaikan setiap orang dengan sukarela, tanpa paksaan, mengikuti aturan dan norma yang ditetapkan. Apabila kesediaan itu dijalankan dengan konsisten maka upaya-upaya keras akan dilakukan untuk mematuhi aturan yang ditetapkan.
Aktualisasi Potensi Diri
Penerapan disiplin sangat erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya seseorang. Untuk meningkatkan sumber daya manusia dibutuhkan aktualisasi potensi diri secara maksimal. Oleh karena itu ketika berada di rumah, orang tua seharusnya menerapkan disiplin sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan mempertimbangkan latar belakang keluarga. Penerapan disiplin juga hendaknya mempertimbangkan dengan kondisi-kondisi seputar psikis dan fisik anak-anak.
Selain itu, anak-anak pun mesti dipersiapkan secara bertahap untuk memasuki dunia sekolah. Mereka akan mengalami kenyataan hidup baru, dengan tuntutan hidup yang serba beragam. Namun, semua ketentuan itu, semata-mata ditetapkan untuk menjamin keteraturan atau harmoni dalam lembaga pendidikan atau instansi terkait.
Sementara itu, anak-anak sebagai bagian dari masyarakat, diharapkan untuk mengadaptasikan diri dengan lingkungan, tempat di mana mereka tinggal. Namun, anak-anak bukan serta merta dibiarkan membangun relasi sosial dengan teman sebaya maupun anggota masyarakat setempat. Sejak dini, mereka mesti didampingi dengan pola disiplin yang sesuai dengan konteks hidup dan tahapan perkembangan mereka.
Disiplin mestinya berperspektif anak. Konteks pergaulan mereka mesti selalu dikontrol. Akan tetapi, sikap kontrol dari orang tua dan guru bukan menunjukkan sikap otoriter dan proteksi yang berlebihan. Anak mesti tetap dihormati sebagai anak. Sebab, anak bukan orang dewasa mini atau bawahan yang mesti diperlakukan secara sewenang-wenang.
Anak tetaplah anak maka penerapan disiplin pun tetap menaruh hormat pada hak anak agar ia dapat mengaktualisasikan potensi dirinya dalam suasana yang merdeka. Jika demikian maka diperlukan pembentukan sebuah lingkungan yang di dalamnya aturan bersama dihormati dan siapa pun yang melanggar, mesti berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Maria Elfia Arkian).
***
Judul: Disiplin Gerbang Aktualisasi Potensi Diri
Penulis: Maria Elfia Arkian, S.Pd.Gr. (Guru Biologi SMA Negeri 2 Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur)
Editor: JHK
——————————————————————————————————————————————————









