ArtikelOpiniPratama Media NewsSeni dan Budaya

Wiyata Mandala Satria Praja: Pendidikan Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal

Sebuah artikel hasil kajian Fajar Budhi Wibowo, Pusat Studi Budaya & Sejarah "Sanghyang Hawu"

Pratama Media News – Wiyata Mandala Satria Praja: Pendidikan Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal – Wiyata Mandala Satria Praja adalah program pendidikan kepemimpinan yang mengedepankan kearifan lokal dengan penguatan berkebangsaan dalam silabus pembelajarannya. Latar belakang dari program pendidikannya adalah dalam rangka mewujudkan salah satu dari Tri Sakti Bung Karno, yaitu “Berkepribadian dalam Berkebudayaan”.

Tersinyalir, kebudayaan bangsa Indonesia yang “katanya” adi luhung dimiliki bangsa Indonesia, ternyata hingga saat ini masih sebatas wacana dan semakin mendekati jurang degradasi. Degradasi kebudayaan telah menjadikan Indonesia nyaris kehilangan jati diri sebagai bangsa yang besar.

Fajar Budhi Wibowo (Pusat Studi Budaya & Sejarah "Sanghyang Hawu")
Fajar Budhi Wibowo (Pusat Studi Budaya & Sejarah “Sanghyang Hawu”) – (koleksi pribadi)

Bisa kita amati bahwa kebudayaan kita semakin hari terus terkikis dan termarjinalkan. Mungkin, sangatlah pantas bila kita katakan bahwa di Indonesia telah terjadi “genosida” kebudayaan. Terlebih, ketika kebudayaan-kebudayaan asing menjadi bersifat “invasive” di tanah air ini.

Artikulasi dan pemaknaan dari diksi budaya dan kebudayaan di Indonesia saat ini hanya tervisualisasikan pada lingkup kecil pada sendi kehidupan rakyat Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kaum muda bangsa kita bangga bila telah menerapkan budaya asing dalam setiap jengkal tanah kelahirannya.

Padahal keadiluhungan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia sejatinya harus diterapkan pada setiap sendi kehidupan. Termasuk dalam hal “religiusitas” spiritual hingga pada tata kelola negara maupun pemerintahan sampai pada penerapan dalam manajeman keorganisasian lainnya.

Salah satu upaya merekontruksi serta rekonsiliasi kebudayaan lokal, Wiyata Mandala Satria Praja yang merupakan salah satu program pendidikan kepemimpinan yang tengah digulirkan oleh Pusat Studi Budaya & Sejarah “Sanghyang Hawu”. Program ini digulirkan guna memperkenalkan kembali luhurnya pola dan konsep pendidikan kepemimpinan berbasis kearifan lokal bangsa Indonesia.

Kita, sebenarnya sejak dulu telah memiliki pola pendidikan kepemimpinan yang lebih hebat dari sekedar istilah bergengsi “Coaching“, “Mentoring“, “Behavior Model“, “Traits Model“, “Contingency Model” dan banyak lagi istilah-istilah lainnya sebagai teori kepemimpinan modern.

Penulis sedang pengumpulan bahan keterangan kepemimpinan berbasis kearifan lokal di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi pada Jumat, 9 Juni 2023
Penulis sedang pengumpulan bahan keterangan kepemimpinan berbasis kearifan lokal di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi pada Jumat, 9 Juni 2023 – (Sumber: koleksi pribadi)
Penulis sedang pengumpulan bahan keterangan/informasi dari salah satu budayawan Kota Cimahi, Yahya Ganda, pada Jumat, 9 Juni 2023
Penulis sedang pengumpulan bahan keterangan/informasi dari salah satu budayawan Kota Cimahi, Yahya Ganda, pada Jumat, 9 Juni 2023 – (Sumber: Koleksi Pribadi)

Istilah-istilah tersebut baru kita kenal tidak lebih dari beberapa dekade lalu. Namun, kita akan terhenyak dan terhentak bila kita menyadari, ternyata di era kebangkitan bangsa, Ki Hajar Dewantara telah mendengungkan falsafah yang jauh lebih keren, yaitu “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“.

Bahkan, ada yang lebih dahsyat lagi, ternyata dalam kehidupan masyarakat Sunda dimasa lampau, dalam kitab Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesian, salah satunya sudah tercantum apa yang disebut “Dasa Pasanta“. Falsafat tersebut merupakan bagian dari “Parigeuing” sebagai gaya kepemimpinan Prabu Siliwangi, belum lagi ada “Tri Tangtu” dan banyak lagi.

Indonesia sebenarnya memiliki hal yang lebih hebat dari teori-teori kepemimpinan yang katanya lebih modern karena dicetuskan oleh bangsa-bangsa asing saat ini. Padahal, Keunggulan dan kelebihan falsafah kepemimpinan berbasis kearifan lokal yang diperkenalkan oleh para leluhur kita lebih otentik keistimewaannya, baik dari sisi konsepsi maupun metodologinya.

Hebatnya lagi, semua masih memiliki relevansi untuk dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masa kini dan kemungkinan besar masih dapat terterapkan pada masa yang akan datang.

Pendidikan kepemimpinan berbasis kearifan lokal kebudayaan Indonesia, ternyata penerapannya tidak hanya untuk tatanan kelompok masyarakat kecil semata. Namun, ternyata sangat dapat diterapkan dalam tata kelola organisasi yang lebih luas, baik negara, instansi pemerintahan, badan usaha, institusi pendidikan hingga pada tingkat keluarga.

Astana Gede Kawali
Penulis sedang melakukan pengkajian manuskrip Kerajaan Galuh terkait kepemimpinan di Astana Gede Kawali, pada Minggu,11 Juni 2023 – (Sumber: Koleksi pribadi)
Penulis sedang mengumpulkan informasi dari Atu Juwita Djatikusumah di Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan di Cigugur Kuningan
Penulis sedang mengumpulkan informasi dari Atu Juwita Djatikusumah di Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan pada Senin,12 Juni 2023 – (Sumber: Koleksi pribadi)

Janganlah berpandangan sempit dan picik, bila kita merawat, memelihara maupun mengembangkan kebudayaan sendiri. Mengagungkan budaya dan kebudayaan sendiri bukan dimaknai dengan ketertinggalan, keterbelakangan atau dianggap menutup diri dari modernisasi, sehingga diartikan menyingkir dari kemajuan zaman.

Namun, dengan kita memajukan kebudayaan sendiri, justru akan lebih mampu berkompetisi dikancah dunia. Justru dapat menjadi senjata untuk “ngigelan” seiring laju perkembangan jaman dengan menunjukkan jati diri bangsa Indonesia.

Sadarkah kita, bila kebudayaan berbasis kearifan lokal bangsa Indonesia sudah terkerdilkan oleh pemikiran dan pilihan rakyatnya sendiri?

Bila sudah menyadari, mari kita kaji bersama, sejauh mana penerapan kebudayaan kita dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang kita jalani?

Sudah siapkah kita menjadi bangsa besar yang “berkepribadian dalam berkebudayaan”-nya?

Mari “Back to Culture“, mengembangkan “Indonesian Culture“, bersama kita hentikan praktik-praktik genosida kebudayaan Indonesia. (Fajar Budhi Wibowo)

***

Judul: Wiyata Mandala Satria Praja: Pendidikan Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal
Penulis: Fajar Budhi Wibowo (Pusat Studi Budaya & Sejarah “Sanghyang Hawu”)
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button