Diskusi Film Bertajuk “Peran SDM Dalam Film, antara Peran dan Adegan” Berlangsung Sukses
Acara berlangsung pada Rabu, 19 Mei 2021 di Gedung BIPI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Pratama Media News, Jakarta, 20 Mei 2021 – Diskusi film bertajuk “Peran SDM Dalam Film, antara Peran dan Adegan” yang diselenggarakan oleh Sehaty Entertainment akhirnya berlangsung sukses. Diskusi yang melibatkan beberapa tokoh dan praktisi di bidang perfilman tersebut berlangsung pada Rabu, 19 Mei 2021 di Gedung BIPI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Salah satu peserta diskusi, Roy Wijaya mengatakan bahwa umumnya masyarakat masih melihat film secara parsial. Kedalaman memahami seni film masih sangat terbatas. Mereka hanya menilai film dari sisi cerita atau tema, akting pemain, dan sedikit tentang sisi sinematrogafinya.
“Pengetahuan tentang film sebagai sebuah karya seni masih berada di ruang-ruang kuliah semata, padahal film bukanlah milik para akademisi saja, melainkan milik semua orang yang hobi menonton,” papar Roy.

Sutradara film eksentrik tersebut memberikan sedikit ilustrasi untuk membantu para talent dan pegiat film untuk membaca film sebagai sebuah karya seni.
“Melalui diskusi ini, audiens akan belajar tentang motif atas pilihan teknik sutradara, baik dari sisi naratif maupun sinematiknya. Dengan mengenal dua unsur pembentuk film tersebut, diharapkan audiens akan memahami film dengan lebih baik,” ujar Direktur Sehaty Entertainment tersebut ketika menyampaikan gagasannya seputar dunia perfilman.
Roy menambahkan, secara naratif diskusi tersebut akan mampu memberikan contoh-contoh dari setiap unsur pembentukan film dengan disertai ilustrasi dan referensi film. Contoh-contoh tersebut akan memudahkan audiens untuk mengerti teori yang sedang dibahas.
“Hal ini menjadi menarik untuk disimak karena pembuatan film dalam mengawetkan peninggalan zaman lewat sudut pandangnya, sampai saat ini masih relevan dengan kehidupan saat ini,” ulas Roy dengan serius.


Semantara itu narasumber lainnya, aktor senior Krisna Mukti berharap dengan diadakannya diskusi film tersebut akan muncul berbagai ide kreatif, apalagi saat ini media sosial sudah menjadi kiblat utama para sineas muda. Mereka memanfaatkan kanal Youtube sebagai media ekspresi dalam menampilkan sinematografinya.
“Karena menjadi pemain film itu tidak mudah, harus banyak belajar dalam beradegan, sebagai bentuk kreatif dalam berakting,” ujar Krisna memberi penjelasan.
Krisna Mukti cenderung memandang film sebagai medium pesan, sehingga isi pesan yang disampaikan menjadi lebih penting daripada cara penyampaiannya.

“Saya tetap mempertimbangkan nilai-nilai politis dalam tiap film yang saya mainkan karena secara garis besar, film terdiri dari dua unsur utama, yakni naratif dan sinematik. Akan tetapi, keduanya harus hadir berkesinambungan dan tak bisa berdiri sendiri-sendiri,” ungkap pemain sinetron terkenal ini dengan penuh semangat.
Menurut Krisna, tantangan fundamental membuat film adalah tentang mengupayakan aspek sinematik menyampaikan aspek naratifnya.
“Itulah kenapa sampai hari ini saya adalah penonton dan pemain film yang jauh lebih fokus terhadap wacana dan kebebasan sisi naratif dalam film dibanding seluk beluk sinematiknya,” ujar Krisna dalam diskusi film bersama Sehaty Entertainment tersebut.

Sementara Itu, pegiat film Farisal Syarief memandang betapa pentingnya membaca pemikiran sang sutradara adalah memahami film membuat dirinya mulai mengerti aspek teknis dasar estetika sinema.
“Setidaknya saya jadi tahu apa itu mise-en-scene, low key lighting, rack focus, crane shot, dissolve, jump cut, dan terminologi-terminologi lainnya,” ungkap Farisal. (RW)
***
Editor: JHK








