Anak-anak Abad Milenium Baru (Children Of The New Age): Perbedaan Indigo, Indera Keenam, dan Aura (Bagian 3: Aura)
Aura mewakili tentang karakter, kepribadian, dan kondisi seseorang. Berdasarkan filosofi makroskosmos dalam Gunawan (2004:32-33) terdapat tujuh warna dalam setiap diri individu yaitu merah, jingga/orange, kuning, hijau, biru, indigo, ungu/violet.
Perbedaan Indigo, Indera Keenam, dan Aura (Bagian 3: Aura) – Dalam buku “Weschcke & Slate” dinyatakan bahwa beberapa orang biasanya melihat aura. Mereka adalah clairvoyanis alami. Peka terhadap medan energi.
Banyak orang secara fisik merasakan aura tanpa memisahkannya dan seringkali secara intuitif “membacanya” tanpa memahami prosesnya. Sekelompok orang lain pun karena berbagai alasan, tidak bisa (pada awalnya) melihat atau merasakan medan keramaian yang halus ini. Bahkan, peramal alami – mereka yang melihat bidang aura (atau hanya beberapa) di sekitar orang lain – dapat mengambil manfaat dari permainan pemahaman tentang faktor-faktor yang terlibat.
Kebanyakan kita hanya merasakan aura yang mengelilingi orang lain. Tulisan ini harus menjadi penguat yang kuat untuk memisahkan dan membaca, serta mendapat manfaat dari menjadi Spesialis Aura.
Adapun riset yang pernah penulis lakukan sejak 2018 untuk melihat aura diri kita adalah tergantung dengan metode yang akan kita gunakan. Misalnya menggunakan alat berupa foto aura, baik berupa kirlian atau di Indonesia dapat dilakukan di Pro V Clinic, Jakarta.

Metode yang digunakan adalah dengan menempelkan jari-jari telapak tangan kiri ke komputer hingga muncul warna aura dilayar osiloskop. Tujuannya untuk mendeteksi bagian blur yang menandakan aura terkait chakra tidak sehat, ataupun dengan cara tradisional seperti meditasi, ini berkenaan dengan Chakra pula.
Namun, kebanyakan di luar negeri sana, khususnya Amerika Serikat, banyak pihak yang menawarkan jasa foto aura. Dengan alat foto aura tentunya merupakan potret khusus aura. Salah satu biro konsultan aura di Amerika Serikat yang penulis ditemukan bernama The Aura Photo Booth.

Menurut Rudi (2014:10) Pada hakikatnya manusia memiliki satu warna aura permanen di dalam tubuhnya. Beberapa makna warna aura akan dijelaskan di bawah ini.
Aura berwarna merah mencerminkan semangat yang tinggi. Seseorang yang berwarna aura merah memiliki sifat giat, dinamis, dan kompetitif.
Aura berwarna jingga/orange, biasanya seseorang yang memiliki ini adalah pribadi yang percaya diri, luwes, dan energik.
Aura berwarna kuning identik dengan simbol ide dan kreatif. Sifat seseorang yang beraura kuning biasanya senang bergaul dan berbagi ide-ide kreatifnya.
Aura berwarna hijau biasanya memialiki sifat penuh kasih sayang, pribadi yang menyenangkan, dan menyukai yang berhubungan dengan alam.
Aura berwarna biru biasanya orangnya sangat idelais dan dilambangkan sebagai pencari pengetahuan spriritual.
Aura indigo adalah perpaduan antara warna biru dan ungu atau disebut nila. Kepribadian seseorang yang memiliki warna indigo adalah perpaduan antara warna aura biru dan ungu.
Aura berwarna ungu/violet adalah pribadi yang spiritualis, biasanya psikis alami, memiliki jiwa humanis, dan kepedulian terhadap sesamanya.
Aura mewakili tentang karakter, kepribadian, dan kondisi seseorang. Berdasarkan filosofi makroskosmos dalam Gunawan (2004:32-33) terdapat tujuh warna dalam setiap diri individu yaitu merah, jingga/orange, kuning, hijau, biru, indigo, ungu/violet. Ketujuh warna itu erat kaitannya dengan keberadaan jiwa setiap insan.

Gradasi yang dimulai dari merah, jingga, kuning merupakan warna dasar fisik yang menandakan bidang fisik, emosi, mental bawah maupun mental yang lebih tinggi, sedangkan gradasi hijau, biru, indigo, dan ungu merupakan warna ruh yang menandakan bidang mental yang tinggi, spiritual, intuisi, dan illahi.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diawal, hal ini erat kaitannya dengan topik pembahasan aura warna atas eksperimen riset yang dilakukan oleh Nancy Ann Tappe. Dari sinilah berawal munculnya penyebutan istilah indigo. Ya, indigo hanyalah warna aura. Ia mengungkap bahwa aura manusia bisa dihubungkan dengan kepribadian, dari hasil temuan bahwa warna nila atau indigo yang umumnya ada pada orang dewasa, justru muncul pada anak-anak.
Matahari saja saat bersinar memancarkan warna aura yang menyinari tata surya, terkadang terlihat lapisan pelangi kecil. Keadaan orang yang sehat terlihat aura wajah ceria, sedangkan orang sakit terlihat pucat.
Tentu saja aura indigo itu bisa dimiliki oleh siapapun sehingga setiap orang memiliki pengalaman dan kisah hidupnya masing-masing yang berbeda. Maka tak etis bila kita membandingkan atau menyamakan pengalaman permasalahan hidup antara diri kita dengan orang lain.
***
Judul: Anak-anak Abad Milenium Baru (Children Of The New Age): Perbedaan Indigo, Indera Keenam, dan Aura (Bagian 3: Aura)
Penulis: Ilham M. S.
Editor: JHK
Sekilas tentang penulis
Ilham M.S. lahir di Bandung, 27 Agustus 1994. Ia seorang poliglot yang menguasai cukup banyak bahasa asing antara lain Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, dan Bahasa Italia.
Sejak usia tiga tahun, Ilham pernah melihat sosok malaikat yang menampakan diri di hadapannya. Sosok yang dilihatnya berupa makhluk transparan bersayap yang bersinar terang benderang yang sedap dipandang mata. Warna aura yang terpancar pada dirinya ialah lavender yang didominasi oleh warna ungu.

Seiring berjalan waktu, saat pertama kali masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak pada 1999 (usianya baru menjelang lima tahun), ia sering menyendiri dan bermain ayunan dengan boneka teddy bear-nya. Perlu proses dan waktu yang panjang untuk bisa memahami dan beradaptasi atas apa yang dialaminya.
Kini setelah Ilham menginjak dewasa, ia mulai paham bahwa sesuatu yang dialaminya tersebut merupakan anugerah yang Tuhan berikan padanya. Ia pun menyadari kalau orang-orang yang ada di sekitarnya banyak yang tidak bisa memahami karakternya.
Sarjana alumni sebuah universitas ternama di Kota Bandung ini telah berpengalaman melakukan riset, baik secara eskperimental maupun melalui studi pustaka mengenai anak human angel. Ia pun bergabung ke berbagai komunitas anak human angel di media sosial, mulai dari Timur Tengah dan Benua Eropa, sampai ke Amerika Utara.
Melalui hasil risetnya, Ilham menyimpulkan bahwa masing-masing anak human angel (anak indigo aliran kemalaikatan) yang pernah ia hubungi dari berbagai negara memiliki keunikan kisah hidupnya masing-masing, sebagaimana setiap orang punya pengalaman dan pembenarannya tersendiri. Oleh sebab itu diperlukan sikap saling pengertian dan toleran satu sama lain bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sama.
***








