
Puisi Jangan Mengeluh dan Cepat Rapuh
Karya: Jumari Haryadi
Pada tujuh generasi. Bumi ini selalu indah untuk kita huni, tetapi mengapa rasa gelisah yang bersemayam di hatimu?
Kalau saja bumi ini sedang berguncang keras, tentu wajar kau tangisi.
Namun, bumi ini masih berdiri kokoh seperti dulu dan tak ada yang berubah, kecuali sang waktu.
Tiada alasan bagimu untuk menatap sendu masa depanmu, karena sungguh tabu kalau kamu hanya mengeluh dan meratapi nasibmu.
Coba lihat langit yang tersenyum kecut, melihatmu berlari dari ruang kenistaan.
Kamu terlihat seperti belatung yang menggila, meloncat cepat tak tentu arahnya.
Hidupmu kecut bagaikan asam cuka, padahal Tuhan menciptakan dunia agar kamu Bahagia.
Bahkan, ikan di samudera terdalam pun tercipta hanya untukmu, tapi kau tak mensyukurinya.
Alam ini selalu bergejolak dari waktu ke waktu, berubah gelap dan terang mengikuti polah penguasa dunia.
Takdirmu pasti buruk jika kamu cuma diam dan membisu, seperti seonggok tonggak kayu yang terhampar di tengah kebun.
Namun, kau masih punya celah untuk mengubah masa depanmu, kalau mau bangkit dan mengubah polahmu.
Jangan biarkan dirimu hanya duduk termangu, diam, dan cuma membisu, tanpa mau mengambil peran sebagai penentu.
Puisi: Jangan Mengeluh dan Cepat Rapuh
Karya: Jumari Haryadi (Penulis, Trainer, Host PCTV)
Pengisi suara: Catur Pebi Astuti (Kepala Sekolah SMPN 1 Pedamaran, Kab. Ogan Komering Ilir (OKI))
Video Creator: Diantika I.E.
Video Editor: Adrie Noor
Produksi
(C) PCTV, 2020.
#akar #ajangkarya #pctv #edukatif #inspiratif #inovatif #komunitas #ilmu #berbagi #literasi #pratamainovasindo #pratamacreativetv #jumariharyadi #CaturPebiAstuti #diantikaie #adrienoor #puisi #fiksi








