Berita (News)EventsPendidikanPengembangan DiriPratama Media News

Pemangku Kawasan Konservasi Pegunungan Jawa Barat Ikuti Workshop Manajemen Perencanaan Pencegahan Karhutla Sambut El Nino

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Puter Indonesia bersama Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kota Bandung pada 24-26 Juli 2023

Pratama Media News, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (27/07/2023) – Yayasan Puter Indonesia dengan Program Javan Hawk Eagle Trail (JHET) bersama Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung dan didukung USFS (United State Forest Services) serta AOP (Action on Poverty) menyelenggarakan workshop bertema “Fire Prevention Management Plan (FPMP)” di Bandung pada 24-26 Juli 2023.

Kegiatan ini diinisiasi dalam rangka merespon fenomena iklim El Nino yang sedang melanda wilayah Indonesia sehingga berpotensi meningkatkan risiko Karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Sebagaimana diketahui, El Nino merupakan fenomena kenaikan suhu dalam jangka panjang yang sudah berulang kali terjadi di Indonesia dan seringkali berdampak merugikan khususnya dalam konteks pengelolaan hutan dan lahan pada ekosistem hutan pegunungan/dataran tinggi.

Acara workshop yang dilaksanakan di Aula Tahura Ir. H. Djuanda Bandung menghadirkan narasumber yang berasal dari akademisi (ITB), Instansi pemerintah (BMKG, BPBD), dan praktisi PT Rimba Makmur Utama (RMU), Yayasan Puter Indonesia, serta 26 peserta.

Yayasan Puter Indonesia
Foto bersama antara Rachmat Boediono (perwakilan Yayasan Puter Indonesia – sebelah kanan) dengan Kepala Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Lutfi Erizka (sebelah kiri) saat pembukaan workshop pada Senin (24/07/2023) lalu – (Sumber: PMN)

Para peserta merupakan perwakilan stakeholder pengelola kawasan konservasi dengan tipe ekosistem hutan pegunungan atau dataran tinggi di Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari instansi pemerintah, BUMN, Sektor Swasta dan kelompok masyakat, di antaranya adalah: pertama, pengelola Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda diwakili bidang Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH).

Kedua, pengelola kawasan konservasi Taman Buru Masigit-Kareumbi (TBMK) diwakili oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Yayasan Wanadri, dan perwakilan pemerintahan Desa Cimanggung.

Ketiga, pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) diwakili oleh staff Balai TNGHS, pemerintahan Desa Sukaharja, dan Kelompok Tani Ketan Mas Dusun Tapos.

Keempat, pengelola kawasan Gunung Tangkuban Perahu diwakili oleh pemerintahan Desa Karyawangi, Perhutani KPH Bandung Utara dan KPH Bandung Selatan, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, Jawa Barat dan Perkumpulan TREK 11 Sukawana.

Kelima, pengelola kawasan Gunung Cikuray diwakili oleh pemerintahan Desa Sukahurip, Perhutani KPH Garut, dan Yayasan Pecinta Alam Tapak Gerot.

Kehadiran multi pihak dalam pertemuan ini diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi dan pengetahuan sehingga masing-masing pengelola kawasan memiliki rencana manajemen terpadu dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.

Pembekalan Materi

Sebagai pembuka materi workshop dalam konteks “El Nino yang telah dan akan terjadi di Indonesia Khususnya Jawa Barat” disampaikan oleh Dr. Nurjana Joko Trilaksono dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB.

Salah satu narasumber dari BMKG Provinsi Jawa Barat, Yan Firdaus, mengatakan bahwa diperlukan kewaspadaan menyambut El Nino yang melanda Indonesia hingga setidaknya bulan Januari 2024.

Selanjutnya Yan Firdaus mengatakan, “El Nino membuat suhu di permukaan menjadi lebih panas dan kering. Secara historis, fenomena iklim ini berbanding lurus dengan peningkatan kasus Karhutla. Sehingga, para pengelola kawasan selayaknya memiliki manajemen perencanaan untuk mengantisipasi berulangnya kejadian tersebut.”

Seorang narasumber sedang menyampaikan materinya dalam acara workshop "“Fire Prevention Management Plan” yang berlangsung di Aula Tahura Djuanda, Bandung - (Sumber: PMN)
Seorang narasumber sedang menyampaikan materinya dalam acara workshop ““Fire Prevention Management Plan” yang berlangsung di Aula Tahura Djuanda, Bandung – (Sumber: PMN)
Suasana kelas workshop "“Fire Prevention Management Plan” yang berlangsung di Aula Tahura Djuanda, Bandung - (Sumber: PMN)
Suasana kelas workshop ““Fire Prevention Management Plan” yang berlangsung di Aula Tahura Djuanda, Bandung – (Sumber: PMN)

Sementara itu, Andi Angga dari PT RMU (PT Rimba Makmur Utama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Restorasi Ekosistem yang berbasis di Kalimantan Tengah), membagikan pengetahuan terkait sistem monitoring dan penggunaan teknologi dalam pencegahan Karhutla yang dilakukan oleh perusahaannya. Menurutnya, dalam Karhutla aspek pencegahan sangat penting dan mestinya diarusutamakan.

“Jika terjadi Karhutla di wilayah konsesi, perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar sama halnya seperti kerampokan, karena apa yang sudah diusahakan sebelumnya akan lenyap seketika karena kebakaran,” ujar Andi dengan nada prihatin.

Andi juga menekankan bahwa partisipasi masyarakat sekitar sangat penting dalam upaya pencegahan. PT RMU bekerjasama dengan masyarakat dari puluhan desa di sekitar wilayah konsesi untuk dapat menekan kasus kebakaran.

Para peserta workshop “Fire Prevention Management Plan”  terihat antusias menyimak materi yang disampaikan oleh narasumber - (Sumber: PMN)
Para peserta workshop “Fire Prevention Management Plan” terihat antusias menyimak materi yang disampaikan oleh narasumber – (Sumber: PMN)

“Memang diperlukan upaya yang panjang dan tak mudah untuk merangkul masyarakat mencegah kebakaran. Tapi menurut pengalaman kami, partisipasi ini ialah kunci karena sebagian besar kasus kebakaran di lahan gambut disebabkan oleh faktor manusia,” pungkas Andi.

Hal ini dikuatkan oleh Program Manager Yayasan Puter Indonesia, Andaman Muthadir. Ia membagikan pengalaman Yayasan Puter Indonesia dalam mendampingi masyarakat desa dalam konteks Manajemen Pencegahan Karhutla Berbasis Masyarakat di Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

“Kuncinya adalah keterlibatan masyarakat. Pendekatan baru akan berhasil ketika masyarakat menyadari sebab akibat, dampak serta pentingnya mencegah kebakaran dan bersama-sama mencegahnya, misalnya untuk melindungi aset keluarga, desa dan sebagainya,” tutur Andaman.

Diskusi dan Perumusan Perencanaan di Setiap Kawasan

Setelah mendapat pembekalan materi, peserta kemudian menyusun perencanaan pencegahan Karhutla menyesuaikan karakteristik masing-masing kawasan kelola. Diharapkan penyusunan prerencanaan ini dapat menjadi dokumen “Fire Prevention Management Plan” yang efektif dan tepat guna meminimalisir kejadian kebakaran di masing-masing kawasan.

Sesi diskusi penyusunan manajemen perencanaan pencegahan karhutla - (Sumber: PMN)
Sesi diskusi penyusunan manajemen perencanaan pencegahan karhutla – (Sumber: PMN)
Sesi diskusi penyusunan manajemen perencanaan pencegahan karhutla - (Sumber: PMN)
Sesi diskusi penyusunan manajemen perencanaan pencegahan karhutla – (Sumber: PMN)

Para peserta kemudian mempresentasikan perencanaan dari masing-masing kawasan sehingga memungkinkan terhimpunnya saran dan masukan demi perbaikan tata kelola Karhutla ke depan.

Foto lengkap peserta workshop Fire Prevention Management Plan di Tahura Djuanda Bandung, 24-26 Juli 2023
Foto lengkap peserta workshop Fire Prevention Management Plan di Tahura Djuanda Bandung, 24-26 Juli 2023 – (Sumber: PMN)

Setelah workshop ini selesai, direncanakan tim dari Yayasan Puter Indonesia akan melakukan kunjungan lapangan ke masing-masing kawasan kelola untuk pendalaman substansi sekaligus survey kelayakan perencanaan yang telah dibuat dikaitkan dengan kondisi hutan dan lahan yang ada. (AP/YW).

***

Judul: Pemangku Kawasan Konservasi Pegunungan Jawa Barat Ikuti Workshop Manajemen Perencanaan Pencegahan Karhutla Sambut El Nino.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button