ArtikelBerita (News)OpiniPratama Media NewsSastraSeni dan Budaya

Poedianto Sosok Guru Inspiratif, Pencipta Ratusan Lagu Jawa Selama Masa Pandemi

Hampir semua lagu yang diciptakan Poedi bertemakan sosial. Lagu-lagunya merupakan balada kehidupan manusia sehari-hari, seperti tentang persahabatan, rumah tangga, pendidikan, asmara, dan sebagainya.

Poedianto Sosok Guru Inspiratif, Pencipta Ratusan Lagu Jawa Selama Masa Pandemi – Masa pandemi tak membuat seniman serba bisa asal Kota Surabaya, Poedianto, mati suri. Pria kelahiran Surabaya, 18 Oktober 1959 yang akrab disapa Poedi ini selalu punya ide kreatif dalam memanfaatkan waktu luangnya. Terbukti ia mampu menciptakan 207 lagu Jawa di sela-sela kesibukannya mengajar materi Bahasa Jawa di sekolah tempatnya mengajar.

Beberapa lirik dan lagu Jawa yang sempat ditulis oleh Guru Bahasa Indonesia SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya ini di antaranya adalah berjudul “Ra Bisa Diaboti”, “Mung Sliramu”, “Guru”, “Dina Becik”, “Rembulan Dadi Seksi”, “Tresnaku Trenamu”, dan “Bali Ning Desa”. Tentu masih ada ratusan judul lagi lainnya yang lahir dari proses kreatifnya.

Sosok Guru Inspiratif  yang memiliki darah seni tersebut begitu piawai dalam menciptakan lagu. Saat waktu senggang, tangannya tak bisa berhenti memetik gitar dan melantunkan tembang yang indah. Kesempatan itu tak disia-siakannya untuk menciptakan lagu yang secara spontan lahir dari pikirannya. Tak memerlukan waktu yang banyak, beberapa lagu langsung lahir dari suaranya yang merdu dengan diikuti petikan melodi gitar usangnya.

Poedianto
Poedianto, sosok guru inspiratif (Sumber: istimewa)

“La wong saya ini sebenarnya tidak mau jadi penyanyi. Suara saya jelek dan penampilan saya juga biasa-biasa saja. Saya mah sudah tua. Saya hanya bisa ciptakan lagu-lagu Jawa,” ujar Pria berputra tiga orang dan memiliki empat cucu ini merendah.

Alumni Program S1 Jurusan Sastra Universita PGRI Adi Buana Surabaya ini mengungkapkan, ”Semua lagu-lagu yang saya ciptakan ini hanya sebagai karya dasar saja. Namun, jika ada penyanyi yang berminat memakai lagu karya saya, tentu saya sangat senang. Mereka boleh menyanyikan lagu-lagu tersebut. Silahkan saja dilihat, semuanya sudah ada chanel YouTube saya.”

Hampir semua lagu yang diciptakan Poedi bertemakan sosial. Lagu-agunya merupakan balada kehidupan manusia sehari-hari, seperti tentang persahabatan, rumah tangga, pendidikan, asmara, dan sebagainya.

Selain suka menulis lagu, ternyata Poedi juga sangat mencintai tradisi leluhurnya. Ia sangat intens terhadap perkembangan seni tradisi seperti wayang kulit, ludruk, janger, ketoprak, keroncong, langgam, dan campur sari. Bukan hanya itu, ia juga sering menulis berbagai cerita rakyat, legenda, ephos,  dan cerpen.

Poedianto sosok guru inspiratif
Penampilan Poedianto yang sederhana bersama gitar tuanya (Sumber: istimewa)

Beberapa cerita yang pernah ditulis oleh seniman serba bisa ini di antaranya cerita berjudul “Sang Guru”, “Perawan Sendang Madu”, “Cinta Suci di Kaki Gunung Wilis”, serta berbagai cerpen sosial lainnya. Bahkan, beberapa karya tulis tersebut ada yang dipakai untuk lakon Ludruk RRI Surabaya dan tema obrolan budaya RRI Surabaya.

Poedianto sosok guru inspiratif
Poedianto bersama buku berjudul “Perawan Sendang Madu” hasil karyanya (Sumber: jawapos.com)

“Saya suka sekali menulis. Apa saja pasti saya tulis asal berkaitan dengan bidang seni dan budaya. Saya juga pernah menulis beberapa artikel di majalah pendidikan milik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Beberapa tulisan saya pernah dimuat di Majalah Info, Majalah Bende, Majalah Media, dan berbagai media pendidikan lainnya,” ujar Poedi dengan nada ramah.

Buku "Sang Guru" karya Poedianto
Buku berjudul “Sang Guru” karya Poedianto (Sumber: penerbitpaganpress.com)
Buku karya Poediantor
Buku berjudul “Lencir Kuning yang Dimadu” karya Poedianto (Sumber: penerbitpaganpress.com)

Menurut alumni Program Pascasarjana (S2) Konsentrasi SDM Ekonomi dari Universitas Mahardhika Surabaya ini, seni dan tradisi sebaiknya diajarkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai tingkat atas. Semua bidang seni wajib dipelajari, baik seni tari, seni musik, seni suara, karawitan, pedalangan, dan berbagai bidang seni lainnya.

“Sebab garda terdepan melestarikan seni dan budaya ada di sekolah-sekolah,” pungkas Guru yang suka humor ini mengakhiri pembicaraan. (Jehaka)

***

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button