42 Perupa Indonesia Ikut Serta dalam Pameran Seni Rupa Bertajuk “Mas[s]a Bangkit” di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta
Pameran tersebut akan berlangsung selama sebulan yaitu 20 Mei – 18 Juni 2022”
Pratama Media News, Jakarta, Rabu (18/05/2022) – 42 perupa dari seluruh Indonesia ikut serta dalam ajang pameran seni rupa bertajuk “Mas[s]a Bangkit” yang akan berlangsung pada 20 Mei – 18 Juni 2022 di Museum Kebangkitan Nasional, Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No.26, Jakarta Pusat.
Menurut rencana, pameran akbar yang dikuratori oleh Zamrud Setya Negara dan Juaniawan Dahlan tersebut akan dibuka pada Jumat, 20 Mei 2022, pukul 09.00 WIB sampai selesai. Kegiatan ini bersamaan juga dengan upacara perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap 20 Mei.

“Tentu saja pilihan visual, bentuk, dan media yang menjadi penguat dan ruang melakukan upaya tersebut akan beragam,” ungkap Zamrud.
Sementara itu kurator lainnya, Juaniawan Dahlan mengatakan bahwa pameran seni rupa bertajuk “Mas[s]a Bangkit” ini merupakan langkah nyata untuk memulai berkarya dengan penuh semangat dan saling menyemangati kepada sesama perupa.
“Ma[s]sa Bangkit hari ini menjadi pernyataan dan ajakan, sekaligus komitmen bahwa jiwa kreatif tidak akan pernah padam dalam segala kondisi dan situasi. Saatnya kita bangkit, bangkit bersama,” ujar Juaniawan dengan nada berapi-api.

“Ma[s]sa Bangkit adalah sebuah tindakan nyata yang dilakukan dalam usaha bagaimana kita memutus mata rantai segala traumatik dan kegelisahan yang terus menjadi bayang-bayang pandemi selama ini,” ujar Nur Khozin dengan penuh optimis.
Koordinator Pameran “Ma[s]sa Bangkit” tersebut menambahkan bahwa “Ma[s]sa Bangkit” juga merupakan statemen atau pernyatan sikap nyata dari seluruh aspek dan personal-personal yang terbangun kesadarannya untuk membenahi diri dan lingkungan di sekitarnya, baik dilakukan secara pure personal, sekelompok kecil, sampai pada jumlah massal yang terintegrasi.
Berikut karya para perupa yang terlibat dalam pameran seni rupa “Ma[s]sa Bangkit”:
- Afit Ruseno dengan karya berjudul “Kenduri Nusantara”;
- Agus Muchtadji dengan karya berjudul “Langit Borobudur 04”;
- Agus Pisaro Widada dengan karya berjudul “Lingga, Tangguh/Kubangkitkan dengan Bunga Merah”;
- R. Tanjung dengan karya berjudul “Buang Maskermu dan Bukalah Kedokmu”;
- As Adi dengan karya berjudul “Borobudur 03”;
- Bejo Saputro dengan karya berjudul “Kampung Semar Ngangeni”;
- Bina Novida dengan karya berjudul “Survival Jalan Setapak”;
- Budi Karmanto dengan karya berjudul “Kampung Semar”;
- Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., dengan karya berjudul “Antara Harapan dan Kenyataan”;
- Dimas Giriana dengan karya berjudul “Borobudur Tengah Malam”;
- Feriendas dengan karya berjudul “A Blessing in Disguise”;
- Gogor Purwoko dengan karya berjudul “Tanda Emas”;
- Hotli Silalahi dengan karya berjudul “Pemimpin dan Rakyat Bangkit”;
- Ibnu Alwan dengan karya berjudul “Economic New Normal”;
- Igul Pambudi dengan karya berjudul “Spirit of Pluralism”;
- Ireng Halimun dengan karya berjudul “Makara Jaga Bangsa”;
- Jenny Mahastuti dengan karya berjudul “Penjual Cinderamata di Borobudur”;
- J. Handoyo dengan karya berjudul “Memetik Bintang”;
- Kembang Sepatu dengan karya berjudul “Viral For Justice”
- Lukman Zen dengan karya berjudul “Resurrection Dance”;
- Fathoni dengan karya berjudul “Dunia Terbarukan”;
- Sodik dengan karya berjudul “Rumah Desa”;
- Marwan Parodi dengan karya berjudul “Sang Maestro 1, 2, dan 3”;
- Munadi dengan karya berjudul “Transformasi (meditasi) Bulan Purnama”;
- Nadia Iskandar dengan karya berjudul “Keep an Eye on”;
- Nanuk Bemu dengan karya berjudul “Sentimentil”;
- Nurma dengan karya berjudul “Jataka dan Avadana”;
- Paul Hendro dengan karya berjudul “The Cure”;
- Sigit Wicaksono dengan karya berjudul “Candi Borobudur”;
- Reny Alwi dengan karya berjudul “Warisan Kejayaan”;
- Rizal dengan karya berjudul “Melihat Borobudur”;
- Sisjunjungseni dengan karya berjudul “Manembah”;
- Sugiarto dengan karya berjudul “Maha Karya Indonesia”;
- Sulan Lim dengan karya berjudul “Seri Borobudur”;
- Suwito dengan karya berjudul “Menyongsong Hajat Besar”;
- Syafril Cotto dengan karya berjudul “Dari Masa ke Masa”;
- Tato Kastareja dengan karya berjudul “Beyond”;
- Tomy Faisal Alim dengan karya berjudul “Come Home”;
- Udin Choiruddin dengan karya berjudul “Buddha Menerima Wahyu”;
- Wantiyo dengan karya berjudul “Kerukunan”;
- Wayan Sudana dengan karya berjudul “Doa”;
- Yunti Arsih dengan karya berjudul “Bias Rasa”.
***
Editor: JHK








