ArtikelOpiniPratama Media News

Sastrawan di Kotak-Kotakkan: Ketika Solidaritas Tergantikan oleh Kepentingan

Penulis: Didin Kamayana Tulus

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Rubrik OPINI/ARTIKEL/FEATURE, Jumat (30/05/2025) – Tulisan esai berjudul Sastrawan di Kotak-Kotakkan: Ketika Solidaritas Tergantikan oleh Kepentingan ini ditulis oleh Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang sarat pengalaman. Kini ia  tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Di era digital yang serba terkoneksi ini, seharusnya dunia sastra bisa menjadi ruang yang lebih inklusif, tempat para penulis dan sastrawan saling merangkul, bertukar ide, dan tumbuh bersama. Namun, realitanya justru sering kali berbeda. Alih-alih membangun jembatan, banyak komunitas sastra justru membangun tembok—mengotak-ngotakkan diri berdasarkan kelompok, lembaga, atau kepentingan tertentu. Yang lebih ironis, solidaritas sesama sastrawan perlahan terkikis, digantikan oleh mentalitas “kami vs mereka“.

Didin Kamayana Tulus
Didin Kamayana Tulus, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Komunitas atau Klik Eksklusif?

Tak bisa dimungkiri, komunitas sastra memiliki peran penting dalam memajukan literasi. Mereka menjadi wadah diskusi, tempat berbagi karya. Bahkan menjadi sarana untuk mendapatkan peluang ekonomi. Namun, ketika komunitas hanya berfungsi sebagai “klub eksklusif” yang hanya mengenal dan merangkul anggota dalam lingkaran mereka sendiri, maka esensi kebersamaan dalam sastra pun memudar.

Pernahkah Anda melihat seorang penulis di luar komunitas tertentu diabaikan hanya karena bukan “bagian dari mereka”? Atau seorang sastrawan yang karyanya dianggap tidak “cukup bergengsi” karena tidak berasal dari lembaga ternama? Ini adalah gejala yang memprihatinkan. Sastra seharusnya tentang kebebasan berekspresi, bukan tentang seberapa kuat jaringan kita dalam suatu grup.

Duit di Balik Layar: Ketika Kepentingan Ekonomi Mengalahkan Idealisme

Salah satu faktor yang memperparah fenomena ini adalah motif ekonomi. Banyak komunitas atau grup sastra yang sejatinya lebih fokus pada proyek, pendanaan, atau popularitas ketimbang membangun ekosistem sastra yang sehat. Tidak ada yang salah dengan mencari nafkah dari sastra—penulis juga butuh makan, tetapi ketika uang menjadi satu-satunya tujuan maka yang terjadi adalah persaingan tidak sehat dan pengabaian terhadap mereka yang dianggap “tidak menguntungkan”.

Bayangkan, seorang penulis berbakat dari daerah terpencil mungkin kesulitan menembus komunitas sastra ibu kota yang sudah mapan. Bukan karena karyanya buruk, tapi karena ia tidak punya “koneksi” atau “branding” yang dianggap menjual. Akhirnya, yang terjadi adalah kesenjangan: sastrawan yang sudah punya nama semakin dielu-elukan, sementara yang lain tetap terpinggirkan.

Solidaritas yang Hilang: Bisakah Kita Kembali ke Khittah Sastra?

Sastra lahir dari keragaman. Setiap penulis punya suara unik, setiap karya punya nilai. Jika kita terus mengkotak-kotakkan diri, maka kita justru membunuh roh sastra itu sendiri. Lalu, bagaimana solusinya?

Pertama, komunitas harus lebih terbuka. Alih-alih hanya fokus pada internal grup, mengapa tidak menjalin kolaborasi dengan penulis dari latar belakang berbeda?

Kedua, kurangi mentalitas “kita vs mereka”. Seorang penulis dari komunitas A bukanlah rival bagi penulis dari komunitas B—kita semua adalah bagian dari dunia sastra yang sama.

Ketiga, kembalikan sastra sebagai medium kebersamaan, bukan sekadar ajang mencari keuntungan.

Cindekna: Sastra Bukan Harga Mati, Tapi Ruang Berbagi

Jika dunia sastra terus dibiarkan terpecah belah oleh sekat-sekat artifisial maka kita hanya akan melahirkan generasi penulis yang pandai berpolitik komunitas, tetapi miskin solidaritas, padahal sastra sejatinya adalah tentang manusia—tentang rasa, tentang empati, tentang kebersamaan.

Mari kita ingat lagi mengapa kita mencintai sastra: bukan untuk bersaing, tapi untuk berbagi. Bukan untuk menguasai, tapi untuk memahami. Jadi, hal terpenting adalah sastra bukan milik satu kelompok saja, melainkan milik semua orang yang berani merasa, berpikir, dan menulis.

Nah, lain kali ketika Anda bertemu seorang penulis di luar komunitas Anda, cobalah menyapa. Siapa tahu, dari situ lahir kolaborasi indah yang tak terduga. Lagi pula, bukankah sastra yang baik selalu dimulai dari keterbukaan—bukan dari tembok tinggi yang kita bangun sendiri?

Sastra tanpa solidaritas ibarat puisi tanpa rasa—masih bisa dibaca, tapi tak pernah menyentuh hati. (Didin Tulus/PMN).

***

Judul: Sastrawan di Kotak-Kotakkan: Ketika Solidaritas Tergantikan oleh Kepentingan
Reporter: Didin Kamayana Tulus
Editor: Jumari Haryadi

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button