Ayo kawan bermain-mainlah sebentar
sudah lama tak bersua, kita hiasi saja dulu
pertemuan kali ini dengan bermain catur
ujarmu, lantang
Baiklah, ujarku
Kami duduk dalam hening
Jajaran pion kaku dalam kudus
Seperti biasa langkah pertamaku adalah
memajukan pion di tengah sebagai langkah pertama,
memajukan kuda, memajukan pion uskup untuk membuka jalan
bagi raja melakukan castling sebagai upaya pertahanan
Langkah ini di kemudian hari baru aku ketahui
sebagai langkah yang banyak digunakan
sebagai langkah pembuka dengan berbagai variasinya
dan dinamai Italian Game
Satu persatu pion dikorbankan, berguguran
demi memajukan pergerakan ke daerah lawan
Kalau perlu, benteng, kuda, menteri, dikorbankan salah satu atau keduanya
Bahkan ratu, kenapa tidak, digugurkan terlebih dahulu
demi menumbangkan lawan
Jika kamu menang, atau kalah, silakan bertukar tempat dan bergantian memakai warna baru
Dari putih menjadi hitam
atau sebaliknya dari hitam menjadi putih
Toh, semuanya hanya permainan
yang dijalankan
dengan berpikir
ataupun tidak berpikir
Jika kebetulan ketika kita bermain ada yang menonton
Biarlah penonton yang memutuskan
Siapa yang bermain cantik
Siapa yang bermain asal-asalan
Siapa yang hati-hati mengambil keputusan
Siapa yang bergerak dengan serampangan
Siapa yang lebih mengandalkan naluri
Siapa yang bermain penuh strategi
Siapa yang menjelma tirani
Dan siapa yang lebih sering menganulir gerakannya sendiri
Karena pada akhirnya
semua akan berakhir pada kemenangan atau kekalahan
atau berakhir remis
Tak perlu dirisaukan
semua hanyalah permainan
Karena setelah itu semua
kami kembali tertawa-tawa
dan ngopi bersama
Bandung, 22 Juli 2021
***
“Bermain Catur” karya Dimas Saputra
Editor: JHK
Profil Penulis

Dimas Saputera pernah bekerja sebagai tentor pada bimbingan belajar terkenal di Bandung. Ia juga pernah bekerja di beberapa penerbit sebagai pemeriksa aksara, editor, dan juga sebagai layouter.
Sekarang Dimas masih bekerja di sebuah penerbit pada divisi marketing. Ia sempat sangat intens menulis banyak puisi ketika masih kuliah. Akan tetapi, pada akhirnya sebagian besar puisinya yang belum sempat dipublikasikan hilang melebur menjadi abu pada musibah kebakaran yang pernah dialaminya pada 2012.
Sekarang Dimas sedang mempersiapkan penerbitan antologi puisinya dari data-data yang masih tersisa sebagai sebuah kenang-kenangan. Ia juga tercatat aktif dalam sebuah komunitas pecinta aksara, Komunitas Penulis Kreatif (KPK’ers) di Kota Bandung.





