
Apa yang akan terjadi apabila seekor katak dimasukan ke dalam sebuah panci berisi air kemudian panci tersebut ditaruh di atas sebuah kompor? Kompor tersebut kemudian dinyalakan dengan nyala api kecil sehingga perubahan suhu terasa lambat. Pada awalnya, katak merasa nyaman berada di dalam air hangat. Namun naasnya, lama-kelamaan hal ini berujung pada kematian katak yang matang karena rebusan air mendidih.
Kondisi demikian ternyata banyak dialami perusahaan ketika memasuki zona nyaman (comfort zone). Perusahaan merasa sudah berada di posisi aman, semua terasa baik-baik saja atau dalam kata lain “everything is running well.”
Pada kondisi demikian, baik owner, komisaris, direksi, maupun karyawannya enggan untuk melakukan inovasi dan penetrasi pasar secara agresif karena seolah-olah dengan cara biasa pun kondisi perusahaan sudah aman. Namun, perlu diingat, sejarah mencatat banyak perusahaan yang terkena berdiam diri di zona nyaman pada akhirnya berujung pada kehancuran.
Salah satu indikasi comfort zone effect, yakni berhentinya inovasi, minim edukasi, dan minim strategi. Saat tantangan nyaris tidak ada lagi, maka banyak perusahaan yang mengalami comfort zone effect dan merasa tidak perlu melakukan inovasi dan budaya untuk belajar pun berhenti atau berjalan lambat.
Bahaya comfort zone effect seringkali juga akibat kelalaian atau ketidaktahuan tentang situasi yang tengah terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan katalisator untuk mencegah comfort zone effect. Perusahaan harus memiliki budaya belajar yang disertai dengan research and development. Bila hal ini diterapkan, maka perkembangan lingkungan industri akan diamati secara cermat dan perusahaan bisa keluar dari zona ini menuju growth zone.

Tentunya, mekanisme ini bukan pekerjaan bagian Research dan Development atau satu divisi saja, melainkan semua bagian perusahaan turut memberikan masukan, baik secara komunal maupun individu.
Pengetahuan tentang lingkungan bisnis membentuk urgency alarm yang perlu segera ditindaklanjuti oleh para komisaris dan direksi. Urgency alarm ini tidak saja melulu datang dari seorang pimpinan, melainkan bisa juga datang dari tingkat bawah manajemen perusahaan yang mempunyai kejelian melihat datangnya ancaman. Terlebih dengan perubahan era yang kian hari membutuhkan keputusan dan tindakan serba cepat. (Adrie Noor)









Menarik 🙂