Asyiknya Melihat Dalang dan Nayaga Berlatih Bersama
Mereka sebagian besar para dalang dan nayaga muda yang berusia antara 20-40 tahun
Asyiknya Melihat Dalang dan Nayaga Berlatih Bersama – Pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini berimbas hampir ke semua lini kehidupan. Tak terkecuali bidang seni dan budaya pun terkena imbasnya.
Selama pandemi ini, pementasan kesenian secara live sangat berkurang intensitasnya. Namun, hal itu bukan berarti menjadi halangan bagi para seniman untuk terus berkarya.
Banyak karya yang lahir dari tangan para seniman pada masa pandemi ini, tanpa mengurangi kualitas dan kuantitasnya. Bahkan, pandemi covid-19 ini menjadi momentum untuk melahirkan karya dengan konsep baru yang lebih fresh.
Berawal dari rasa kebersamaan dan semangat berkarya, beberapa dalang dan nayaga ̶ kata “nayaga” merupakan bentuk tidak baku dari kata “niyaga” yaitu sebuah istilah dalam dunia padalangan yang artinya orang yang memiliki keteramilan dalam menabuh gamelan ̶ dari Kabupaten Bandung Barat sepakat untuk mengadakan latihan rutin bersama-sama di Kecamatan Parongpong, tempat kediaman dalang senior, Yayat Deden.

Para dalang dan nayaga berkumpul untuk latihan bersama setiap Rabu dan Sabtu malam. Biasanya diawali dengan acara ramah tamah agar suasana hubungan persahabatan di antara mereka terjalin semakin akrab. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah itu, mereka pun mulai berlatih bersama.
Ruang tamu rumah dalang Yayat sebenarnya tidaklah terlalu besar. Namun, demi kebersamaan akhirnya diubah menjadi tempat latihan bersama. Dengan kebersamaan, mereka bisa saling menguatkan satu dengan lainnya, bukan saling jegal dan bersaing secara tidak sehat.
Hal menarik lainnya, para dalang yang melakukan latihan bersama tersebut ternyata sebagian besar berusia muda, kisaran 20 – 40 tahun. Mereka manggung secara bergantian.

“Ini adalah upaya kita untuk regenerasi dan menumbuhkan bakat bakat baru yang ke depannya akan menjadi generasi penerus yang akan melestarikan budaya wayang golek, juga sebagai persiapan untuk ajang binojakrama pedalangan tingkat Jawa Barat,” ujar dalang Yayat saat ditanya tujuannya mengumpulkan para dalang untuk berlatih bersama di rumahnya.
Latihan berjalan lancar dalam suasana penuh keakraban. Mereka saling koreksi sambil diselingi canda sehingga membuat gelak tawa sering terdengar membahan di ruangan tersebut mewarnai sesi latihan.
Menjelang tengah malam, latihan pun berakhir. Sebagian dalang dan nayaga pulang sedangkan sebagian lagi meneruskan begadang sampai pagi sambil berdiskusi segala hal tentang dunia pedalangan. Kopi hitam dan rokok kretek menjadi teman setia mereka untuk pengusir rasa kantuk dan dinginnya malam.
“Selain sebagai ajang silaturrahmi, pertemuan tersebut juga menjadi pembelajaran bagi mereka untuk mematangkan teknik dan skill sebagai dalang maupun nayaga. Latihan tersebut juga merupakan sarana untuk membantu para dalang muda yang belum mempunyai peralatan lengkap sehingga mereka tetap bisa berlatih optimal,” ungkap dalang Dhani Atmadja sesaat sebelum kita berpisah.
Maju terus budayaku! Untukmu, pengabdian terbaikku!
***
Penulis: Sony Vespa
Keterangan:
Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”. Pria yang memiliki hobi mengendarai Vespa ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya. Sony juga tercatat sebagai salah seorang pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) di Komite Sejarah, Heritage, dan Pariwisata.
Editor: JHK








